DALAM khazanah kearifan lokal masyarakat Jawa Barat, ada sebuah untaian kalimat. Bukan sekadar kata. Tapi kompas moral. Tajam.
“Lamun jalma ngagulkeun batur matak jadi rendahan, lamun jelema diagulkeun batur matak jadi gumede.”
Pepatah ini sederhana. Tapi dalam. Ia bicara tentang ego dan izzah. Tentang kehormatan. Tentang jebakan pujian. Tentang racun sanjungan.
Ketika seseorang ngagulkeun batur, menyanjung orang lain berlebihan, ia jatuh pada ghuluw. Berlebih-lebihan. Dalam perspektif spiritual, itu perendahan martabat. Kita diciptakan sebagai khalifatullah. Punya kemuliaan intrinsik.
Al-Qur’an mengingatkan: “Janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan terabaikan.” (QS. Al-Isra: 22).
Para ulama menjelaskan: memuji manusia setinggi langit adalah bentuk penghambaan psikologis. Jiwa jadi rendahan. Syekh Ibnu Atha’illah menulis dalam Al-Hikam: “Tidaklah dahan kehinaan tumbuh, melainkan di atas benih ketamakan.”
Di sisi lain, saat kita diagulkeun batur, dipuji orang lain, hati manusia yang lemah sering terjangkit penyakit gumede. Takabur. Merasa lebih besar dari realitas dirinya.
Rasulullah SAW sudah memperingatkan: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim).
Ulama Ahlussunah Wal Jamaah mengajarkan: pujian orang lain itu tirai. Sitrun. Allah sedang menutup aib kita. Maka menjadi gumede karena pujian adalah bentuk ketidaktahuan akan aib sendiri.
Filosofi Sunda ini sejalan dengan tawadhu. Rendah hati. Islam mengajarkan: jangan merendahkan diri demi dunia. Jangan pula merasa tinggi karena pujian.
Imam Al-Ghazali memberi penawar. Saat dipuji, sadarilah itu ujian. Beliau menyarankan doa: “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka ucapkan.”
Pepatah Sunda ini akhirnya mengajarkan keseimbangan. Menjadi pribadi yang ajeg. Tidak goyah karena hinaan. Tidak melayang karena sanjungan. Menghargai orang lain tanpa jadi rendahan. Menerima apresiasi tanpa jadi gumede.(*)
Penulis: Muhammad Azzaam Muttaqie, Lc
Pengasuh Pondok Pesantren Sirojul Athfal




