Saya pun minta tolong sahabat Disway di Toba. Saya perlu kesaksian para pendayung kapal di Toba. Yakni mereka yang setiap hari cari penghasilan di air Toba. Ternyata banyak perahu yang secara rutin melintas di Danau Toba. Yakni kapal pengangkut batu. Mereka itu melayari Toba dari arah Parapat. Tujuannya Balige. Angkut batu gunung. Untuk bahan bangunan. Satu perahu bisa angkut 30 kubik batu.
Mereka itu rutin menjalani rute tersebut. Sejak berpuluh tahun lalu. Tapi mereka bukan peneliti cuaca. Mereka tidak mencatat perkembangan angin dan gelombang di Danau Toba.
Ketika ditanya di bulan-bulan apa gelombang di Toba tinggi dan bulan apa tanpa gelombang, mereka tidak bisa menjawab. “Benar-benar tidak bisa ditebak. Angin datang tanpa melihat bulan,” ujar mereka.
Rasanya, kata mereka, tidak ada ritme bulan gelombang dan bulan tenang.
Mereka sudah terbiasa, kalau gelombang besar mereka libur. Tidak berani angkut batu. Kalau gelombangnya sedang mereka masih punya cara: mengemudikan perahu dengan memecah atau menabrak gelombang.
Ternyata BMKG menjadi lebih penting di Toba. Jangan sampai Toba dicoret dari kalender dunia Powerboat hanya gara-gara tidak punya Rara. (Dahlan Iskan)





