ARTIKEL

Kesehatan Reproduksi Remaja

×

Kesehatan Reproduksi Remaja

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bobby Irawan
(Mahasiswa Program Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung)

Menurut WHO (2007) Sehat adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Bank bjb Tandamata

Kesehatan reproduksi diartikan sebagai suatu kondisi yang menjamin bahwa fungsi reproduksi, khususnya proses reproduksi, dapat berlangsung dalam keadaan sejahtera fisik, mental, maupun sosial dan bukan saja terbebas dari penyakit atau gangguan fungsi alat reproduksi.

World Health Organization mendefinisikan remaja sebagai manusia yang berusia dari 10 sampai 19 tahun. Remaja merupakan penduduk dengan usia 10 – 18 tahun (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) mengkategorikan remaja sebagai penduduk dengan umur 10 – 24 tahun dan belum pernah menikah.

Periode remaja adalah masa transisi dari usia anak hingga dewasa. Ini merupakan saat yang sangat penting karena merupakan penentu masa depan bangsa.Di tahun 2010, jumlah remaja yang berusia 10 – 24 tahun berkisar 64 juta atau 27,6% dari keseluruhan penduduk Indonesia dengan jumlah 237,6 juta jiwa menurut Sensus Penduduk tahun 2010.

Kesehatan reproduksi merupakan unsur penting dalam Kesehatan umum, baik perempuan maupun laki-laki.

Kesehatan reproduksi juga dapat mempengaruhi kesehatan bayi, anak-anak, remaja, dan orang yang berusia diluar masa reproduksi (menopause).

Pemahaman tentang pengaruh kesehatan reproduksi terhadap kesehatan ini belum dipahami secara luas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang benar mengenai kesehatan reproduksi.

Kekurangan informasi ini tidak saja terjadi pada kaum remaja, tetapi juga pada kalangan dewasa dan orang tua. Biasanya orang awam mengartikan Kesehatan reproduksi hanya sebatas hal-hal yang berhubungan dengan organ reproduksi.

Padahal, kesehatan reproduksi seperti diuraikan diatas meliputi banyak aspek kehidupan. Ketidaktahuan masyarakat mengenai masalah kesehatan reproduksi melahirkan masalah-masalah baru yang diakibatkan perilaku yang tidak aman, misalnya saja munculnya penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS.

Penyebab utama masalah kesehatan reproduksi yang dihadapi perempuan terkait dengan status perempuan di masyarakat, karena menyebabkan perempuan kehilangan kendali terhadap kesehatan dan fertilitasnya.

Kelompok perempuan lebih rentan mengadapi risiko kesehatan reproduksi, seperti pemakaian alat kontrasepsi. kehamilan, melahirkan, dan aborsi yang tidak aman.

Struktur alat reproduksi perempuan lebih rentan secara sosial maupun fisik terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS) , termasuk HIV/AIDS. Kelompok laki-laki juga rentan terhadap masalah kesehatan reproduksi, terutama IMS termasuk HIV/AIDS.

Permasalahan perilaku pada usia remaja, salah satu penyebabnya adalah adanya perubahan organ biologik sebagai akibat organ-organ reproduksi yang telah matang.

Masalah kesehatan reproduksi yang sangat luas dan rumit sudah pasti memerlukan keterlibatan berbagai komponen. Bukan saja komponen pada tahap pencegahan sekunder dan tersier, tetapi lebih utama lagi pada pencegahan primer.

Ruang lingkup permasalahan khususnya yang berkaitan dengan upaya pencegahan primer atau promosi kesehatan di bidang kesehatan reproduksi dideskripsikan dalam beberapa aspek yaitu : Masa prakonsepsi dan kehami\lan dini, Nutrisi, Olahraga, Obat-obatan, Rokok, Alkohol dan Stres.

Data Riskesdas 2010 menyampaikan persentase remaja yang pernah mendapatkan penyuluhan Kespro di Indonesia sebanyak 25.1%. Target pemerintah meningkatkan penyuluhan komprehesif program Kespro remaja usia dibawah 15 tahun sebesar 65%, namun hanya tercapai 11,4% di tahun 2011 (Mulyadi, 2012).

Minimnya Pengetahuan Kespro remaja berdampak pada aktivitas seksual diantaranya 15.9% remaja laki-laki dan 10.1% remaja putri di usia 18 tahun sudah pernah melakukan hubungan seksual, 771 dari 10.000 remaja usia 18-19 tahun pernah mengalami kehamilan (Riskesdas 2010).

Promosi Kesehatan modern mulai berkembang diawal tahun 1970-an karena adanya peningkatan penyakit kronik. Perbaikan status Kesehatan masyarakat disertai dengan ditemukannya antibiotik dan obat sulfonamid tahun 1920 dan 1930-an membuar masyarakat memilik persepsi bahwa masalah kesehatan dapat diatasi seluruhnya dengan teknologi.

Pendapat ini mulai pudar oleh karena munculnya masalah kesehatan baru yang menimbulkan banyak kematian, yaitu berkembangnya kanker dan penyakit jantung.

Berdasarkan analisis yang berkembang (setidaknya sebelum ditemukannya HIV/AIDS), penyakit karena infeksi menjadi semakin berkurang.

Kenyataannya, banyak penyakit kesehatan reproduksi yang memiliki faktor predisposisi yang kompleks, mulai dari perilaku, sosial, hingga politik ekonomi.

Misalnya aktivitas seks yang tidak aman sering dihubungkan dengan tekanan teman, iklan yang keliru dan tekanan sosial, penggunaan alkohol, dan stres, atau sebab lain yang lebih mendasar (seperti tatanan social, ekonomi, dan politik). Salah satu yang sangat berpengaruh adalah tingkat pengetahuan.

Pesan pentingnya adalah perbaikan lingkungan dan gaya hidup individu merupakan cara yang paling efektif untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas.

Karenanya, promosi kesehatan modern memberikan penekanan pada mengupayakan kebijakan, strategi, dan intervensi yang menekankan pada pendidikan kesehatan, organisasi, ekonomi, dan lingkungan yang mendukung perilaku yang sehat. (*)