ARTIKEL

Jalan Raya: Atraksi Perkotaan yang Terus Hidup

×

Jalan Raya: Atraksi Perkotaan yang Terus Hidup

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Di tahun 80-90an, anak dan remaja perkotaan akan memperlihatkan sikap biasa-biasa saja saat mereka menginjakkan kaki di lingkungan perdesaan yang asri. Sebaliknya, anak-anak dan remaja perdesaan akan memperlihatkan raut wajah takjub saat mereka menginjakkan kaki di pusat kota dan Jalan Raya.

Inilah alasan, pada dekade 80-90an, para pemerhati sosial sering menggunakan istilah urbanisasi melalui tulisan dan penelitian mereka. Kota dipandang sebagai magnet yang dapat menarik masyarakat perdesaan. Sedangkan, pemakaian kata ruralisasi baru dibahas akhir-akhir ini.

Bank bjb Tandamata

Global village yang baru memancarkan auranya pada awal milenium kedua telah mengikis diferensiasi sosial masyarakat. Saat ini sudah tidak ada lagi perbedaan signifikan antara masyarakat perkotaan dengan perdesaan. Konter-konter ponsel, toko televisi, toko barang elektronik, dan apa saja yang semula hanya terdapat di kota, saat ini sudah membanjiri berbagai pelosok.

Ungkapan urang kampung bau lisung sudah tidak berlaku lagi. Mayoritas masyarakat desa saat ini tidak harus menumbuk padi di lesung untuk menghasilkan beras.  Mereka  telah setara dengan masyarakat perkotaan, membeli beras untuk dimasak dan melakukan tindakan-tindakan praktis lainnya.

Dulu, hanya orang kota dan masyarakat menengah ke atas yang dapat memasak nasi di magic jar.  Sekarang  ini magic jar bukan barang mewah. Magic jar dapat kita jumpai, hatta itu di sebuah gubuk kecil di tengah persawahan. Magic jar yang semua benar-benar sebagai keajaiban, saat ini tinggal sebuah nama saja.

Masyarakat milenial sebagai penghuni kampung global, mulai memakai istilah-istilah baru yang dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang. Sebutan Jalan Raya mulai jarang digunakan, pemerintah dan masyarakat mulai menggunakan istilah baru: “pedestrian”. Jalan setapak di perkampungan telah disulap dan diganti istilahnya menjadi gang. Tampilan fisiknya juga berubah dari tanah menjadi rabat beton.

Anak-anak dan remaja kampung saat menginjakkan kaki di atas Jalan Raya tidak akan terlalu memperlihatkan wajah sumringah karena kaki mereka telah terbiasa bersentuhan menginjak jalan beraspal di perkampungan. Apa yang mereka lihat di sepanjang Jalan Raya sama sekali tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka lihat di sepanjang Jalan Pelabuan II. ***