ARTIKEL

Curug Sawer Situ Gunung: Koneksi Jagat Alit dan Jagat Gede

×

Curug Sawer Situ Gunung: Koneksi Jagat Alit dan Jagat Gede

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Kemahatunggalan Sang Pencipta

bank BJB

Orang Sunda lebih menerima ajaran yang logis seperti Kemahatunggalan Sang Pencipta dibandingkan dengan manusia lainnya di Nusantara ini. Dalam tradisi Sunda tidak dikenal politheisme, mereka cenderung menggunakan terma-terma monotheis seperti Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Keresa sebagai bentuk vernakularisasi dari monotheisme.

Tak heran, para petinggi negeri, meskipun berasal dari daerah lain, nyatanya lebih nyaman mengunjungi Sukabumi karena daya tarik genetika dan DNA leluhur mereka di masa lalu. Bung Karno mungkin lebih mudah mengalami De Javu saat mengunjungi Nyalindung daripada saat ia berkunjung ke daerah-daerah lain. Begitu juga dengan Suharto, ia merasa lebih terhubung dengan daerah Surade daripada Surabaya.

Dari asumsi ini, manusia Sunda dan orang Sukabumi memang sudah saatnya untuk mengkoneksikan diri mereka sebagai Jagat Alit dengan alam semesta sebagai Jagat Gede. Konektivitas yang tepat akan mengurai genetika mereka dan terpadu dalam bingkai: Hana Nguni Hana Mangke (keterhubungan antara masa lalu dengan masa kini).

Serupa dengan yang saya rasakan saat mengunjungi Curug Sawer dan Situgunung, rapatnya pepohonan dengan gemericik air justru membangun sebuah istana kemegahan masa lalu. Wilayah ini dipuja-puji oleh Ptolemeus sebagai negeri yang tenteram, bukan negeri yang seringai angkara. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *