CATATAN DAHLAN ISKAN

Wardah Tahan Goda

×

Wardah Tahan Goda

Sebarkan artikel ini

Apalagi mereka yang posisi pasarnya lagi terancam. Oleh produk domestik. Seperti Wardah. Pertama: mereka berusaha menyainginya. Dengan segala cara. Kedua: membelinya. Mengambil alihnya. Kalau langkah pertama itu gagal. Ketiga: membunuhnya. Kalau perlu – – pinjam syair lagu– dengan cintanya.

Wardah ingin hidup dan berkembang sendiri. Ingin jadi tuan di rumah sendiri. Kini sudah banyak item yang Wardah nomor satunya. Mengalahkan produk luar negeri. Yang membuat merk-merk asing kian grogi.

Bank bjb Tandamata

Tapi bu Nurhayati realistis. Sebesar-besar Wardah masih tetap kecil. Dibanding mereka. Dibanding pasar kosmetik keseluruhannya.”Kalau pun kami sudah yang terbesar tapi masih di bidang kosmetik dekoratif. Yang hanya 10 persen dari pasar kosmetik secara keseluruhan,” katanya.

Wardah pun ingin meluaskan ke ‘yang keseluruhan’ itu. Agar tidak hanya di bidang kosmetik dekoratif. Wardah ingin mencicipi juga pasar besar itu. Yang nilai keseluruhannya mencapai Rp 60 triliun itu.

“Kami mulai memproduksi sampo,” ujar bu Nurhayati. “Ternyata memang tidak mudah. Masuk ke pasar mereka.” katanya. Di medan perang yang lebih besar kini Wardah tahu: lebih sulit. Sambil terus berharap ini: pertolongan Tuhan yang lebih banyak.

 

(Dahlan Iskan / Habis)