Saya terpana. Berterima kasih untuk apa? Ternyata ia punya real estate. Di Kupang. Sulit berkembang. Tidak ada listrik. Waktu itu. Untuk mendapatkannya harus beli trafo sendiri. Beli tiang sendiri. Beli meteran sendiri. ”Begitu Pak Dahlan jadi dirut PLN langsung berubah. Kami bisa jualan rumah,” katanya.
Ayahnya diam saja. Memandang anaknya yang terus bercerita. ”Saya dulu pernah membenci ayah. Sampai saya lari ke Surabaya. Melanjutkan SMA di sana. Lalu masuk Universitas Petra Surabaya,” katanya.
Di saat Bobby remaja sang ayah lebih banyak tidak di rumah. Urus kebun cokelat di Sumba. Setiap pulang hanya marah-marah. Sering sampai menempelengnya. ”Pokoknya saya benci sekali pada ayah,” katanya.
Setelah tujuh tahun terpisah Bobby kembali ke Kupang. Pendidikannya sudah tinggi. Sudah ditambah sekolah di Belgia. Bobby sudah lebih dewasa. Ayahnya juga sudah lebih tua. Kebun cokelatnya sudah jalan. Tidak harus lagi sering ke Sumba. Tapi tiba di Kupang Bobby melihat ayahnya bertengkar dengan ibunya. Soal perusahaan yang merugi.
Bobby membela ibunya. Sampai diitempeleng oleh ayahnya. Kebencian pada sang ayah muncul lagi. Kali ini ia lawan ayahnya itu. Lalu Bobby lari ke kamar: menangis. Sesenggukan. Di atas tempat tidurnya. ”Biar pun ayah salah tidak seharusnya saya tadi melawan ayah,” katanya dalam tangisnya.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Ia mengira itu ibunya. Ketukan pintu ayahnya tidak begitu. Ketukan kasar. Disertai langsung buka pintu: untuk menghajar anaknya itu. Bobby mengintip ke pintu. Dari balik jejari tangannya. Ternyata yang muncul sang ayah. Kali ini dengan raut menyesal. Bukan wajah yang garang.


