Saya tidak ingin menugaskan seseorang ke sana. Tidak tega. Khawatir menerima tugas itu dengan setengah hati. Mana ada yang mau ditugaskan ke daerah seperti itu? Tanpa janji kesejahteraan yang terjamin? “Saya ingin tahu. Adakah di antara kalian yang mau ke Palu? Memimpin koran di sana?, “ kata saya. Dengan setengah hati. Dengan pesimisme yang tinggi.
Tantangan itu saya ucapkan sambil setengah bercanda. Tidak berharap sedikit pun akan ada yang unjuk tangan. Ternyata ada sebuah tangan terangkat ke atas. Dari kerumunan di belakang sana. Anak muda sekali. Anak baru. Atau agak baru. Saya kaget. “Siapa yang angkat tangan itu,” tanya saya.
Semua tertawa. Tidak jelas apa maksudnya. “Saya pak. Joko Intarto. Wartawan baru. Saya mau ditugaskan ke Palu,” katanya lantang. Hah? Wartawan baru? Ganti saya yang kelabakan. Akankah koran itu akan dipimpin seorang wartawan baru? Yang umurnya belum 25 tahun? Yang baru lulus Undip Semarang? Yang masih bujang? Menjabat redaktur pun belum pernah?
Saya putuskan detik itu juga: jadi! Rasanya mas Jokolah pimpinan termuda dalam sejarah koran di Indonesia. Mas Joko profil anak muda yang ringan kaki. Apa saja dikerjakan. Tanpa perhitungan untung rugi. Bagi dirinya.
Sejak ia berhenti dari koran itu saya hanya sesekali bertemu. Saya tahu: mas Joko mengerjakan bisnis jasa.
Terkait internet. Ia punya kapasitas menangani tulisan-tulisan saya. Ia mampu mendesain blog khusus untuk saya. Tapi, apa nama blognya? Saya sih terserah saja. Mas Joko mengajukan sejumlah nama. Termasuk “Disway”. Diambil dari judul salah satu buku. Yang berbicara tentang saya. Saya berusaha menghubungi penulis buku itu. Untuk minta restu menggunakan nama disway.
Begitulah. Tidak terasa umur disway sudah beberapa bulan. Tidak pernah bolong. Tiap hari saya menulis untuk disway. Kadang saya tilpon mas Joko. Minta deadline mundur beberapa menit. Menunggu peristiwa baru di luar negeri. Yang lagi hangat.



