SUKABUMI – Ratusan warga Sukabumi yang tergabung dalam relawan Satukan Hati Bantu Prabowo-Gibran (Sahabat Pagi), menggelar deklarasi dukungan terhadap Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam Pilpres 2024 mendatang.
Ketua Umum Sahabat Pagi, Olsu Babay kepada Radar Sukabumi mengatakan, deklarasi relawan ini sengaja dilakukan sekaligus untuk merawat kembali masyarakat Sukabumi saat Pilpres 2019 lalu. Di mana, saat itu, Prabowo menang telak di Sukabumi.
“Di Sukabumi ini yang kita tahu pada tahun 2019 Pak Prabowo menang telak di sini. Kami ingin menjaga supaya kemenangan itu juga terawat sampai dengan 14 Februari 2024 mengingat hari ini Pak Prabowo sudah gabung dengan mas Gibran,” kata Olsu kepada Radar Sukabumi usai melakukan deklarasi Sahabat Pagi di Panglavvungan Bumi Pasundan Coltages, tepatnya di Jalan Raya Kadudampit, Kilometer 04, Nomor 359, Desa Gunungjaya, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi pada Sabtu (26/11).
“Kami Sahabat Pagi ini tentu semua golongan tapi kami fokus pada golongan milenial, UMKM dan emak-emak. Tadi kita lihat 90 persen peserta deklarasi adalah milenial. Kaum muda itu harus diberikan kesempatan, jangan dijegal tapi mereka harus diberikan kesempatan untuk berkiprah,” timpalnya.
Masih ditempat yang sama, Koordinator Daerah Sahabat Pagi Sukabumi, Azmi Abifaris mengatakan, pihaknya melakukan deklarasi sebagai bentuk dukungan terhadap pasangan Prabowo dan Gibran dalam Pilpres 2024. Pihaknya mewakili kaum milenial, UMKM dan emak-emak.
“Berbicara Sahabat Pagi ini kita ingin menyampaikan visi misi. Karena, kalau saya dari daerah selalu ketinggalan baik dari informasi ataupun kebijakan-kebijakan dari pusat ini selalu tidak dieksekusi ke daerah. Artinya ketika ada perpanjangan tangan, nantinya keresahan di daerah bisa langsung terdengar,” kata Azmi.
Terkait aktivis milenial yang bergabung dalam tim relawan Prabowo-Gibran, menurutnya itu merupakan refleksi dari sosok Gibran yang mampu menghapus stigma kualitas dan kuantitas cawapres dipatok oleh usia. Menurutnya, kaum milenial saat ini harus ikut mengambil peran dalam menentukan masa depan Indonesia.
Dia juga bercermin dari beberapa negara maju yang memiliki presiden muda. Salah satunya adalah Presiden Prancis ke-25 Emmanuel Macron yang memegang jabatan saat dirinya berusia 39 tahun.
“Hari ini kita jangan antipati dengan anak muda. Justru anak muda sudah diloloskan berarti ini kesempatan anak muda ke depannya untuk bisa sama bahkan kalau sekarang jadi calon wakil presiden, esok lusa bisa calon presiden,” ujarnya.
“Hari ini mas Gibran hampir 36 tahun jadi tidak ada kualitas dan kapabilitas kepemimpinan seseorang ini diukur dengan usia. Makanya aktivis milenial hari ini harus melek dan baru mas Gibran yang program kerjanya konkrit untuk anak-anak muda,” tandasnya.






