Arsitektur Khas untuk Tajug
Sunan Gunung Jati merupakan satu di antara banyak wali yang tergabung dalam Majelis Wali Songo. Cucu Prabu Siliwangi itu menetapkan tajug sebagai salah satu pusat gerakan penyebaran ilmu keislaman secara kultural.
Berangkat dari tesis ini, Dedi Mulyadi bertekad menghiasi tajug di Jawa Barat dengan arsitektur khas daerah. Jika berada di Sunda, maka arsitekturnya harus Sunda. Jika berada di Cirebon, maka arsitekturnya bergaya Cirebon. Pun begitu jika berada di daerah Betawi.
Desainnya gaya panggung dengan arsitektur khas. Kita harus mengembalikan cita rasa kultur. Kalau bergaya panggung kan bisa digunakan untuk tempat belajar anak-anak mengaji. Saya teringat waktu kecil,” ujarnya.
Menurut kader Nahdlatul Ulama tersebut, setiap tajug harus dilengkapi Mushaf Alquran dan Kitab Kuning. Selain itu, ketersediaan bedug menjadi penting sebagai penanda masuknya waktu shalat selain adzan melalui pengeras suara.
Tajug itu strategis untuk transformasi ilmu agama Islam. Anak-anak selain belajar baca tulis Alquran juga belajar kitab kuning. Kalau tajug sudah berdiri, harus banyak yang ngisi, gak boleh kosong,” ucapnya.
Raut haru sekaligus gembira tampak jelas di wajah warga Desa Rancabango, terutama, Munasih (26). Dia merupakan warganet yang pertama kali menggunggah kondisi Tajug Al Jabbar melalui akun sosial media facebook miliknya.
Alhamdulillah, saya gak nyangka Kang Dedi memperhatikan postingan saya. Responnya gak sekedar komentar tetapi langsung datang dan membangun tajug ini untuk kami,” ujarnya.
(jar)




