POLITIK

Anggota KPPS Kembali Meninggal

×

Anggota KPPS Kembali Meninggal

Sebarkan artikel ini
MELANYAT: Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sukabumi pada saat melanyat ke rumah kediaman korban. Foto: ist

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com — Kabar duka kembali menyelimuti KPU Kabupaten Sukabumi, hal itu setelah tersiar kabar salah satu anggota KPPS kembali meninggal setelah mendapatkan perawatan medis dari RS Sekarwangi.

Korban yang diketahui bernama Peli Supeli yang merupakan anggota KPPS di TPS 16, Desa Cibodas, Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi.

Bank bjb Tandamata

Berdasarkan data yang dihimpun koran ini, sebelum dikabarkan meninggal, Peli sempat sakit dan bolak balik ke Rumah Sakit, usai menjalankan diri sebagai anggota KPPS.

Ketua KPU Kabupaten Sukabumi Ferry Gustaman mengatakan, sejumlah komisioner sudah melayat ke kediaman korban.

Mereka mewakili KPU Kabupaten Sukabumi sebagai penyelenggara pemilu.

“Bu Meri, Pak Hamdan, Pak Gun mewakili ke rumah Almarhum,” ujar Ferry
Menurutnya, Peli memang sempat sakit sebelum meninggal. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit.

Namun selama di rumah sakit, tidak ada progres.

“Sempat dirawat, namun keluarganya tidak menginginkan lagi dirawat di rumah sakit setelah melihat kondisinya seperti itu.

Diagnosa dokter juga belum jelas, saat dirawat waktu itu,” pungkasnya.

Sebelumnya dikabarkan meninggal, kabar sempat mencuat di media sosial soal kabar sakitnya petugas KPPS ini setelah akun milik Deasy Nurfauziah memposting kondisi terkini Peli.

Dalam postingannya, dia juga melampirkan dua foto Peli yang masih terbaring sakit.

Diketahui Peli merupakan warga Kampung Limbangan RT 17/03 Desa Cibodas, Bojonggenteng, Sukabumi.

“Dari selesai menjalankan tugas sebagai anggota KPPS sampai hari ini mengalami sakit yang tidak kunjung sembuh.

Malah 1 minggu ini korban mengalami tidak sadarkan diri total,” tulis Deasy.

Terakhir tiga hari lalu tepatnya, tanggal 16 Mei 2019 kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Peli hanya menyebut salah satu nama capres.

“Yang menjadi miris dari pertama sakit sampai tidak sadarkan diri saat ini korban belum mendapatkan penanganan yang maksimal.

Yang paling sangat prihatin korban adalah seorang guru ngaji dan juga seorang DKM masjid sekaligus imam mesjid Jami di kamping kami,” terangnya.

(hnd)