UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Mencetak Banyak Uang Bukan Solusi Untuk Negara Miskin

Oleh: Sintia Permata Sari
Mahasiswa Program Studi Manajemen
Universitas Nusa Putra

Masyarakat cukup kenyang dijajali kata kata manis oleh pemerintah untuk membangun negeri ini menjadi sejahtera, tetapi pada realitanya masih banyak rakyat yang menderita. Dan mungkin kita  pernah berpikir jika saja pemerintah mencetak uang yang banyak maka negara ini akan menjadi makmur, hutang negara akan terbayar, pekerja akan mendapatkan gaji yang tinggi, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas sehingga mampu untuk meluaskan lahan pekerjaan, pengangguran berkurang dan rakyat akan menjadi lebih sejahtera.

Tetapi untuk melakukannya tidak semudah yang dibayangkan, karena jika pemerintah mencetak banyak uang maka perederan uang di masyarakat akan semakin banyak dan para pelaku usaha ekonomi akan menaikkan harga komoditasnya dan akhirnya akan menyebabkan inflasi.

Inflasi merupakan kenaikan harga-harga barang maupun jasa. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan bahwa inflasi menjadi salah satu isu yang harus dikawal oleh pemerintah untuk tetap menciptakan perekonomian yang sehat. “Inflasi itu adalah isu, supaya ekonomi maju, cetak saja uang yang banyak, tapi itu bukan solusi yang simpel,” kata Sri Mulyani saat memberikan Kuliah Umum di UI Depok, Senin (28/8/2017).

Dia menyebutkan bahwa jika uang dicetak dua kali lipat dari biasanya maka akan memengaruhi kenaikan harga barang dan akhirnya akan berimbas kepada orang miskin.

Dan bersumber dari Wikipedia, ada dua sistem saat mencetak uang, yakni pseudo gold dan uang fiat. Pseudo gold sendiri merupakan pencetakan uang yang didukung dengan cadangan emas atau perak.Sementara itu uang fiat yakni, uang yang beredar tidak didukung dengan aset, yang berarti sistem fiat, pemerintah atau lembaga penerbit uang bisa mencetak uang sebanyak apa pun sesuai keinginan.

Dalam ekonomi, harga barang akan tergantung pada perbandingan jumlah uang dan jumlah persediaan barang. Artinya, jika barang yang beredar lebih banyak dari jumlah uang yang beredar maka harga akan cenderung turun.Dan sebaliknya, jika jumlah barang lebih sedikit dari jumlah uang yang beredar maka harga akan cenderung naik.

Jika inflasi yang terjadi secara terus menerus setiap tahunnya akan menyebabkan nilai mata uang  melemah. Sebesar apapun nilai mata uang tidak akan berarti jika persediaan komoditas tidak sebanding dengan jumlah uang yang beredar.

Pengukuran tingkat inflasi sendiri dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, seperti melalui Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Inflasi ringan berada dalam kisaran kurang dari 10% setahun, inflasi sedang dalam kisaran 10% sampai 30% setahun, dan inflasi berat dalam kisaran 30% sampai 100% setahun. Inflasi berat perlu diwaspadai dampaknya pada perekonomian, apalagi jika sampai terjadi hiperinflasi yang persentasenya melebihi 100%.

Inflasi di Zimbabwe

Inflasi paling tinggi sepanjang sejarah dialami oleh Zimbabwe. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 2000 yang dimana kekeringan serta kelaparan melanda  negeri yang dulu pernah menjadi “keranjang Roti” di Afrika ini kian memburuk pada tahun 2008-2009. Pemerintah yang memproduksi uang secara besar besar menyebabkan mata uang Zimbabwe kehilangan nilainya sehingga terjadilah hiperinflasi.

Pada masa puncak krisis, harga bahan pokok naik menjadi dua kali lipat setiap 24 jam. Ekonomi Cato Institute memperkirakan inflasi bulanan mencapai 7,9 miliar persen pada tahun 2008.

Selain itu, angka pengangguran juga melonjak, layanan publik ambruk dan ekonomi menyusut 18 persen di tahun 2008. Zimbabwe pun meninggalkan mata uangnya pada tahun 2009, sehingga transaksi dilakukan dalam dolar AS, rand Afrika Selatan dan tujuh mata uang lainnya.

Akibat inflasi yang tinggi tersebut, bank sentral Zimbabwe sudah mengeluarkan 4 versi mata uang sampai sekarang. Terakhir kali bank sentral Zimbabwe mengeluarkan pecahan $ 100,000,000,000,000 (100 triliun dolar) yang menjadi uang dengan nominal terbesar didunia yang kemudian digantikan dengan dolar versi ke-4 dimana setiap $ 100,000,000,000 (100 Miliar dolar) uang lama digantikan menjadi $1 uang baru.

Menurut IMF, laju inflasi tahunan Zimbabwe di Agustus 2019 mencapai 300%.

Bagaimana di Indonesia?

Indonesiajuga pernah mengalami hiperinflasi di zaman orde lama pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1963-1965. Presiden RI Soekarno  mencetak Rupiah untuk membayar hutang dan mendanai proyek-proyek megah hingga inflasi mencapai 600%. Pendapatan per kapita Indonesiamenurun secara signifikan.

Sehingga pada tanggal 13 Desember 1965 pemerintah melakukan pemotongan nilai uang dari 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Kebijakan ini memberikan pukulan besar bagi perbankan nasional, terutama yang telah menyetor modal tambahan karena tergerus drastis dalam sekejab. Para nasabah perbankan juga gigit jari akibat nilai dana simpanannya juga menciut 1/1000.

Hiperinflasi yang terjadi menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia mengurangi jumlah tenaga kerja dan bahkan sampai gulung tikar. Hingga terjadilah kenaikan harga bahan pokok, pengangguran dimana-mana, dan Kondisi buruk tersebut diperparah oleh krisis politik yang akhirnya memuncak pada tragedi nasional dengan banyak korban jiwa pada tanggal 30 September 1965.

Menurut studi dari Departemen Ilmu Politik Universitas North Carolina, Indonesiapernah hiperinflasi tinggi yakni pada tahun 1962 (131%), 1963 (146%), 1964 (109%), 1965 (307%), 1966 (1136%), 1967 (106%), dan 1968 (129%).

Artinya mencetak uang sebanyak apapun bukanlah solusi yang tepat untuk mengatasi kemiskinan, justru membuat melemahnya nilai mata uang tersebut hingga tidak memiliki nilai yang berarti.

Belajar dari negeri Gingseng

Sama sama pernah menjadi negara miskin di Asia pada tahun 1950an bahkan Korea menjadi salah satu negara termiskin didunia, kini Indonesia tertinggal jauh dari Korea Selatan yang saat ini telah berkembang dengan pesat menjadi negara maju hingga dijuluki “Macan Asia”.

Bukan perkara mudah, Korea memulai pembangunan ekonominya dari nol dengan membangun industri-industri standar negara berkembang, tekstil, sepatu, yang mudah dan saat itu Korea juga meningkatkan kualitasnya yaitu:

  1. Pendidikan

Pada tahun 70an pemerintah Korea serius dalam pengembangan pendidikan dengan kucuran dana lebih dari 20% untuk pendidikan tidak termasuk gaji guru/pengajar, dan tidak hanya pendidikan berorientasi nilai saja akan tetapi juga aplikasi matematika dan sains terapan yang artinya penelitian untuk teknologi dan pengembangannya, Anak-anak Korea juga didorong untuk belajar ke kampus-kampus paling terkemuka dunia.

Ahli-ahli pendidikan terbaik di dunia, pakar-pakar sains dan teknologi termaju didatangkan untuk membentuk sistem pendidikan Korea. Berbagai usaha dilakukan agar universitas-universitas di Korea bisa sejajar, dengan Harvard dan MIT, terutama dalam advanced science dan technology.

Tahun 1959, pemerintah Korea sudah mendirikan Korean Atomic Energy Commision. Pertengahan tahun 1960, Kementerian Sains dan Teknologi dibentuk. Lalu Korea Institute of Science and Technology yang dibentuk untuk riset industrial.

Dan Pada tahun 2009, Korea Selatan memiliki 323 ribu peneliti, meningkat 2,5 kali lipat jumlahnya dibandingkan pada tahun 1997. Pada tahun 2009 Korea Selatan tercatat memiliki 38.651 buah tesis, meningkat dua kali lipat dibandingkan jumlah tesis yang diselesaikan di tahun 1997.

  1. Hukum

Pemerintahan yang stabil dengan masyarakatnya yang patuh aturan terbentuk oleh sistem dan penegakan hukum yang kuat tanpa pandang bulu. Korea menegakan hukum dengan baik, tidak hanya sekedar undang-undang atau slogan belaka tetapi aplikatif seperti reformasi dan efisiensi birokrasi, hukuman dengan vonis yang berat bagi koruptor dan berbagai macam bentuk penegakan hukum lainnya yang tepat sasaran.

  1. Kultur dan Budaya

Terbiasa beratus-ratus tahun dengan keadaan susah dan sumber daya alam yang terbatas membentuk kepribadian tangguh, pantang menyerah dan rajin bekerja orang-orang di Asia Timur (jepang, Korea, China). Budaya malu kalau tidak bekerja atau gagal sudah mendarah daging. Orang Korea atau Jepang jika dalam kondisi bekerja atau berusaha maka mereka akan mengerjakan pekerjaan itu sungguh-sungguh dengan kedisiplinan tinggi dan tepat waktu.

Di tahun 2012, negara ini dikenal mempunyai waktu kerja terpanjang di antara Negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

  1. Fokus dan Perencanaan yang Matang

Sejak awal, Korea memfokuskan negaranya pada peningkatan kemampuan matematika, sains beserta terapannya, jadi tidak hanya sekedar nilai ujian tinggi atau raihan medali emas olimpiade sains (fisika, kimia, biologi) tetapi bagaimana ilmu eksakta itu diaplikasikan pada teknologi terkini dan teknologi masa depan, hal ini dimaksudkan pada tujuan negara yang berorientasi ekspor barang jadi (mengingat minimnya SDA yang dimiliki Korea) sehingga dapat memenangkan pasar global. Saat ini Industri-industri utama Korea Selatan adalah otomotif, semikonduktor, elektronik, pembuatan kapal, dan baja. Korea juga dengan intens mengembangkan industri-industri strategis masa depan, seperti Nanoteknologi, Bioteknologi, Teknologi Informasi, Robotika, dan teknologi ruang angkasa.

  1. Nasionalisme

orang Korea lebih bangga memakai bahasa, tulisan dan produk Korea sendiri dibandingkan produk atau bahasa lain di luar bahasa mereka. Dengan rasa dan sikap nasionalisme yang tinggi, para pengusaha Korea bisa dengan mudah memasarkan produknya di negara sendiri dan berjuang keras memasarkan produknya di LN tanpa atau dengan bantuan dari pemerintah, yang diimbangi juga dengan kebijakan pemerintah yang mempermudah izin usaha, pajak yang rendah serta birokrasi yang cepat.

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button