Dalam talkshow ini beliau menyerukan kepada petani milenial untuk merubah pola yang ada di Masyarakat yaitu kita terbiasa dengan pembelian kentang french fries terutama di resto besar harganya sudah sangat luar biasa mahal dan berbeda dengan singkong bahan bakunya kita banyak dan sekarang harga jualnya sangat rendah dibandingkan kentang, yang mana kentang di resto cepat saji masih ada yang impor karena ukuran dan kualitas lebih unggul.
Narasumber memberikan motivasi kepada petani milenial bagaimana caranya agar singkong bisa setara dan menyaingi kentang di resto atau kemasan bahkan mengubah kebiasaan masyarakat menjadi cemilan pengganti kentang. Dengan naiknya peminat singkong dan terbiasanya Masyarakat mengkonsumsi singkong maka akan banyak produsen lain memproduksi cemilan singkong ataupun di resto cepat saji. Yang mana ini akan meningkatkan harga singkong yang akan satu level dengan kentang sehingga tidak perlu lagi untuk impor bahan baku dan memakmurkan petani singkong.
Berbeda dengan Habib Alwi, yang berkecimpung 17 tahun di peternakan domba kambing yang memiliki kesuksesan yang luar biasa untuk ditiru oleh petani milenial yaitu Ekspor 6000 domba kambing ke Malaysia, Qurban mencapai 20.000 ekor, 1000 outlet penjualan susu kambing, 5 tahun terakhir menjual 10.000 ekor per tahun.
Kesuksesan Habib Alwi tidak dicapai begitu saja beliau semenjak sekolah berjualan menawarkan daging dari pintu ke pintu dan mengalami kegagalan beberapa kali, tapi beliau sangat fokus dan yakin, dalam bisnis tidak hanya modal yang utama tapi melatih mental untuk berbisnis.
“Yang utama dan keyakinan untuk sukses serta beliau meyakinkan kita untuk menyisihkan Sebagian dari rezeki kita ditambah doa dan restu orangtua itu yang akan melancarkan rezeki kita dan usaha kita mendapat ridho dari Allah”, ujar Habib Alwi. (ijulya)






