Sumbangan Mahasiswa untuk Pengembangan Ilmu Pengetahuan, IMWI Reseach Club Gelar Pelatihan Skripsi

IMWI RESEARCH CLUB
ILUSTRASI: Dosen sedang mengajar di salah satu ruangan Kampus IMWI Sukabumi.

SUKABUMI – Perguruan Tinggi di Indonesia yang menjalankan program sarjana sebagian besar menjadikan skripsi sebagai syarat kelulusan. Terdapat berbagai argumentasi (alasan) dijadikannya skripsi sebagai syarat kelulusan ini.

Namun tidak semua mahasiswa mengetahui dan/atau memahami perihal ini, hingga kadang menjadikan skripsi hanya sebagai beban dan menganggap skripsi “mempersulit” jalan menuju kelulusan.

Berbagai alasan dijadikannya skripsi sebagai syarat kelulusan disampaikan dalam pengantar Pelatihan Skripsi yang diadakan oleh Institut Manajemen Wiyata Indonesia (IMWI) Research Club, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Institut Manajemen Wiyata Indonesia, Senin (17/10).

Zulkarnain sebagai narasumber pada kegiatan tersebut menyampaikan bahwa skripsi dapat menjadi sarana pengujian terakhir pihak perguruan tinggi kepada mahasiswanya yang akan lulus.

“Boleh jadi selama ini mahasiswa telah sangat terbiasa mendapatkan ujian dari dosen yang ia kenal, hingga ia telah sangat “siap mental” dengan hal itu. Namun pada saat sidang akhir skripsi, bisa saja yang akan menguji adalah dosen dari perguruan tinggi lain, atau jajaran pimpinan pada perguruan tinggi (yang selama berkuliah tidak pernah “dihadapi” mahasiswa). Maka pada saat itulah tantangan mental terjadi, dan mahasiswa akan “sangat beruntung” mendapatkan pengalaman berharga itu,” ucapnya kepada Radar Sukabumi, Kamis (20/10).

Selanjutnya melalui skripsi pula mahasiswa akan diasah kemampuan berpikir holistik atau menyeluruh. Yaitu kemampuan berpikir logis, mengaitkan kembali (mengambil benang merah, red) materi-materi yang pernah didapatkan pada semester-semester sebelumnya (ditambah dengan kajian literatur terkini) sebagai pijakan atau dasar argumen dalam menjelaskan fenomena-fenomena penelitian yang ditemui di lapangan.

“Lalu mahasiswa juga akan mendapatkan pengalaman bagaimana ia mampu mandiri, belajar mengatur waktu, menjaga pola komunikasi dan interaksi yang baik dengan dosen pembimbing dan lokasi (subjek) penelitian, yang nantinya kemampuan itu akan sangat diperlukan ketika terlibat di lingkungan masyarakat, baik di lingkungan kerja maupun usaha,” tambahnya.

Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi hendaknya memandang skripsi yang sedang disusun akan menjadi warisan atau legacy untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Zulkarnain, temuan skripsi nantinya dapat diniatkan atau berkontribusi untuk melengkapi bahan ajar dosen ketika mengajar di kelas.

Kemudian dapat pula menjadi referensi (sumber pengetahuan baru) yang mencerahkan (memberi insight) dan memudahkan orang berikutnya untuk mendapatkan pemahaman awal apabila ingin melanjutkan penelitian.

“Dengan niat yang baik, lalu dikerjakan dengan baik pula, hingga menghasilkan skripsi yang baik, kemudian dipublikasikan dan dibaca oleh orang hingga menjadi referensi, mudah-mudahan akan menjadi amal jariah bagi mahasiswa yang menyusun dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya,” doanya.

Sementara itu, Anisa Hasna sebagai Ketua UKM IMWI Research Club bersyukur kegiatan Pelatihan Skripsi seri yang pertama berjalan dengan baik, dan sangat mengapresiasi kehadiran teman-teman mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

“UKM kami memandang bahwa pada semester ganjil ini biasanya menjadi waktu bagi mahasiswa tingkat atas untuk menyusun skripsi. Kami berpikir untuk berkontribusi dengan mengadakan Pelatihan Skripsi. Alhamdulillah kegiatan seri pertama mendapatkan sambutan yang baik dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi. Selain yang dari Sukabumi, hadir pula secara daring teman-teman mahasiswa dari Jakarta, Bandung, Bekasi, dan sebagainya, seperti dari Universitas MNC, STIE Ekuitas, Universitas Indonesia Mandiri, IBM Asmi, dan lain-lain,” jelasnya.

Sedangkan mahasiswa yang hadir pada pelatihan ini menilai kegiatannya sangat baik, dan sangat membantu memberikan pemahaman dalam menyiapkan skripsi, terutama proposal skripsi kuantitatif sebagaimana pembahasan inti untuk seri pertama pelatihan ini.

“Pelatihan ini memberikan saya gambaran yang lebih jelas terkait alur isi dari setiap bab proposal skripsi. Data-data apa saja yang harus disiapkan pada setiap alurnya, dan referensi mana yang baiknya digunakan, sungguh saya sangat terbantu dengan mendapatkan pemahaman yang baik melalui pelatihan ini,” ujar Elizabeth Kateryn, mahasiswa semester 7 dari Universitas MNC.

Narasumber menutup pemaparan dengan satu qoute dari Neil Armstrong, orang pertama yang menjejakkan kaki di bulan, yaitu “Research is creating new knowledge”. Melalui penelitian, peradaban di muka bumi berkembang, sistem dan teknologi baru diciptakan, diharapkan mahasiswa senantiasa memiliki motivasi untuk menjadi bagian penting dari itu, skripsi yang dihasilkan menjadi warisan berharga bagi pengembangan ilmu pengetahuan. (*/sri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *