SUKABUMI – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi, Punjul Saepul Hayat, menyatakan dukungannya terhadap konsep deep learning untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kami berharap penerapan deep learning dapat memberikan dampak positif bagi seluruh elemen pendidikan, khususnya siswa, guru, dan masyarakat luas,” ujar Punjul. Menurutnya, upaya peningkatan ini akan mencakup daya dukung sarana prasarana, kualitas alat pembelajaran, pelatihan guru, kesejahteraan dan gizi peserta didik, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter.
Punjul menekankan bahwa pendidikan bukan hanya tentang pencapaian akademis, tetapi juga mempersiapkan siswa agar bisa berintegrasi dengan masyarakat. “Sekolah harus menjadi tempat yang mengajarkan soft skill, seperti memahami norma sosial dan nilai budaya, sejak dini,” tambahnya.
Punjul juga mengungkapkan antusiasme pihaknya untuk meluncurkan berbagai program yang selaras dengan prioritas Kementerian Pendidikan. “Kami akan menyusun program 2025 yang mendukung konsep ‘mindful learning’, ‘meaningful learning’, dan ‘joyful learning’.”
Di sisi lain, Aulia, seorang siswa SMAN 1 Cibadak Sukabumi, menyampaikan pendapatnya terkait perubahan kurikulum yang sering kali mengikuti pergantian Menteri Pendidikan.
“Pergantian kurikulum yang terlalu sering kurang ideal bagi siswa dan guru. Pendidikan membutuhkan konsistensi agar konsep-konsep bisa benar-benar dipahami,” ujar Aulia. Menurutnya, perubahan kurikulum yang berulang membuat proses adaptasi jadi terhambat.
Aulia juga mengungkapkan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka Belajar sudah memberikan keleluasaan dalam memilih peminatan, hal ini tetap menimbulkan kebingungan.
“Di Kurikulum Merdeka, peminatan mata pelajaran lebih detail, tetapi masih banyak ketidakpastian, terutama untuk kami yang akan masuk perguruan tinggi,” katanya. Aulia berharap perguruan tinggi bisa segera menyesuaikan sistem penerimaan agar selaras dengan kurikulum terbaru ini, sehingga siswa lebih yakin dengan pilihan peminatannya di SMA.
Aulia juga menambahkan bahwa penerapan deep learning mungkin akan lebih menantang karena butuh teknologi yang kuat, yang belum tentu bisa diakses oleh semua siswa, terutama di daerah terpencil. “Jika tidak merata, kesenjangan pendidikan bisa makin lebar,” ujarnya.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa kurikulum deep learning berpotensi mengasah kemampuan berpikir kritis jika diimplementasikan dengan baik.
Melalui diskusi ini, harapan besar tersimpan agar perubahan kurikulum ke arah yang lebih mendalam dan adaptif dapat mendukung siswa dalam menghadapi tantangan masa depan, tanpa mengorbankan konsistensi dalam pendidikan.(wdy)






