Sadjuga mencatat, sejak 2008, kolaborasi antara periset Indonesia dengan peneliti asing mengalami penurunan signifikan. Karena itu, Kemenristek Dikti membuat sejumlah program untuk meningkatkan kolaborasi riset dengan peneliti asing, seperti melalui pertukaran ilmiah, pelatihan dan beasiswa.
Menurut Sadjuga, kolaborasi periset dalam negeri dengan peneliti asing bisa mendorong proses riset berjalan lebih cepat dan meningkatkan jumlah sitasi publikasi ilmiah asal Indonesia. Berdasar data indeks Scopus per 6 April 2018, jumlah publikasi ilmiah Indonesia telah menduduki posisi nomor dua tertinggi di ASEAN atau hanya kalah dari Malaysia.
“Setelah 28 tahun, akhirnya kita bisa mengungguli Singapura dan menjadi nomor 2 publikasi terbanyak di ASEAN,” kata dia. Meski jumlah publikasi ilmiah telah meningkat signifikan, kata Sadjuga, masih ada pekerjaan rumah yang besar, yakni mengerek angka sitasi.
“Salah satu indikator kualitas publikasi ilmiah adalah sitasi. Sementara sitasi publikasi ilmiah kita masih rendah,” ujar dia. Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UGM, Ika Dewi Ana menambahkan kontribusi peneliti Indonesia di forum ilmiah internasional selama ini juga masih rendah.
“Dari beberapa publikasi [internasional] yang ada, meskipun kita punya kekayaan alam, pengetahuan, dan biodiversitas besar, peneliti Indonesia cenderung tidak setara dengan peneliti asing,” ujar dia.
(net)





