Dibuka sampai Pukul 23.00, Malam Minggu LiburJam kerja kantor Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso berbeda dibanding desa lain. Sebagian besar warganya yang petani, membuat jam pelayanan dialihkan pada malam hari. Sejauh ini, cara tersebut dirasa lebih efektif.
Kantor Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso begitu sederhana. Bangunan yang menghadap selatan itu hanya berukuran 6 x 6 meter. Di depannya terdapat sebuah pendapa. Sementara sebagai penanda, ada plang kantor yang tampak sudah kusam berdiri tegak di tepi jalan desa.
Masuk ke dalam, terdapat ruang tamu memanjang dari barat ke timur. Lalu ada dua ruangan lagi yang biasa dipakai untuk kegiatan administrasi. “Ya kantor desa kami memang kecil seperti ini,” kata Dudung Kuswanto, Kepala Desa (Kades) Bendoasri kepada wartawan koran ini, Minggu (15/10) siang.
Waktu itu Dudung sebenarnya tidak sedang mengantor. Dia hanya ingin bercerita kepada koran ini, terkait jam kerja di kantor desanya. Makanya, ruangan kantor terlihat sepi.
Apalagi Dudung selama ini hanya dibantu seorang kaur keuangan dan dua staf saja. ‘Kami belum ada pengisian perangkat,” ungkap pria 43 tahun ini.
Meski hanya ada empat orang, perangkat desa berupaya melayani masyarakat desa yang berbatasan dengan Kabupaten Madiun dan Bojonegoro ini sebaik mungkin. Hanya saja bedanya, jam kerja tidak dibuat siang hari seperti instansi pemerintahan yang lain. “Kami memilih buka malam hari saja,” ungkapnya.
Sebelum menjabat kades pada 2013 silam, jam kerja di kantor Desa Bendoasri juga siang hari. Setelah dilantik, Dudung masih meneruskan tradisi tersebut. Sebab di mana pun, jarang ditemukan pelayanan hanya malam hari saja.
Waktu berjalan sekitar dua bulan. Namun Dudung merasakan ada yang berbeda saat menerapkan jam kerja siang.
Setiap kali ngantor mulai pukul 08.00, kantor desa sangat sepi. Warganya jarang sekali yang mau datang ke kantor pagi-pagi. Sebab pagi hari, mereka lebih memilih kerja di sawah.
Dudung mengakui, sebagia besar warga Desa Bendoasri bekerja sebagai petani. Mereka memiliki sawah dan kebun yang harus dikerjakan. Mulai dari padi, jagung dan tanaman porang.
Begitu pulang kerja sekitar pukul 15.00, justru banyak masyarakat yang baru datang ke kantor. Akhirnya sebagian bisa dilayani, namun beberapa orang harus datang ke rumah kades. “Kantor desa sepi, rumah saya yang ramai didatangi,” ujar Dudung lantas terbahak.
Atas pertimbangan itu, dia memutuskan untuk memindah jam pelayanan di kantor desa menjadi malam hari. Biasanya kantor dibuka setelah ba’da magrib sekitar pukul 18.30.
Sementara pelayanan berakhir sekitar pukul 23.00. Dengan terobosan tersebut, Dudung mengaku, kantor desa lebih ramai. Pasalnya, masyarakat berbondong-bondong datang ke balai desa untuk mengurus berbagai keperluan.
Misalnya mengurus kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), akte, surat nikah dan surat waris. “Ternyata kantor desa lebih berfungsi setelah dipindah malam hari,” kata pria lulusan Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya ini.
Tidak hanya itu, kantor desa juga menjadi tempat berkumpul warga desanya. Makanya, selesai dilayani, mereka tidak langsung pulang. Tetapi memilih bercengkrama di kantor desa sembari ditemani kopi dan makanan ringan. “Apa saja diobrolkan,” ujar Dudung.
Dudung juga merasa pelayanan malam hari membuat pekerjaan menjadi lebih efektif. Seperti diketahui, jarak Bendoasri dengan kantor Kecamatan Rejoso sekitar 16 kilometer (km). Untuk beberapa urusan tertentu seperti KTP dan KK, mereka harus datang ke kantor kecamatan dan dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) di Nganjuk. Ketika masih siang hari, biasanya pelayanan baru selesai siang hari.
Karena itu, keesokan harinya warga baru bisa pergi ke Rejoso maupun ke Nganjuk. Sehingga mereka harus mengorbakan tidak bekerja di sawah selama dua hari.
Tapi setelah dipindah lama hari, esok paginya warga langsung berangkat ke Rejoso. “Paling hanya meninggalkan sawah sehari. Sebab pagi sebelumnya sudah ke sawah,” kata pria asli Desa Bendoasri ini.
Meski jam kerja malam hari, Dudung mengaku, perangkatnya juga menyempatkan menyelesaikan administrasi pada siang hari. Terutama surat-surat yang berhubungan dengan kecamatan atau dinas. Selain itu, mereka juga biasanya menyelesaikan surat pertanggungjawaban (spj). “Tetapi tidak dibuat beban. Kami sudah terbiasa,” ujarnya.
Karena itulah, seragam safari PNS hanya dipakai siang hari saja. Ketika jam pelayanan malam dibuka, perangkatnya lebih suka memakai pakain bebas. “Malam lebih informal meskipun ada pelayanan,” tambah Dudung.
Lalu kapan jam pelayanan diliburkan? Dudung mengatakan, jam kerja dan libur di kantornya juga berbeda dengan desadesa lainnya. Sebab Sabtu malam justru menjadi hari libur. Sementara hari minggu malam senin, kantor desa tetap buka.
“Senin sampai Jumat seperti umumnya. Malam minggu libur,” kata Dudung.
Setelah berjalan sekitar empat tahun, Dudung mengaku, masyarakat mendapat manfaatnya dengan jam kerja malam. Mereka tidak perlu meninggalkan sawahnya di siang hari. Hanya yang terkadang menjadi kendala adalah listrik padam.
Dalam dua bulan terakhir, kata Dudung, listrik di desanya padam dua kali. Hal itu berpengaruh terhadap pelayanan. “Yang masalah matinya sangat lama. Malam mati, jam 10.00 pagi baru nyala lagi,” katanya lalu tersenyum.
(rk/baz/die/JPR)



