NASIONAL

Tsaqiva Kinasih, Penulis Sastra Remaja Terbaik Kemendikbud 2016

×

Tsaqiva Kinasih, Penulis Sastra Remaja Terbaik Kemendikbud 2016

Sebarkan artikel ini

Anak pasangan Hasan Aoni Aziz dan Kismiati itu terus mengasah kepiawaian menulis cerpen. Hingga akhirnya salah satu karyanya menjadi yang terbaik versi Kemendikbud 2016. Tak hanya itu, cerpennya akan diterbitkan Kemendikbud sebagai bacaan sastra di SD/SMP/SMA di Indonesia.

”Di pengujung 2016 lalu cerpen yang berjudul ‘Bintang di Langit Jakarta’ saya kembangkan menjadi sebuah film. Judul filmnya ‘Mata Jiwa’. Saya juga jadi sutradara film itu,” ungkap gadis yang bercita-cita menjadi seniman itu.

Bank bjb Tandamata

Dalam film tersebut, Tsaqiva bercerita tentang seseorang yang memiliki keterbatasan untuk melihat. Matanya rabun, penglihatannya samar.

Sementara itu, dia ingin sekali melihat bintang-bintang di langit. Dengan kondisi Jakarta yang penuh polusi ditambah dengan adanya gedung-gedung tinggi, membuatnya susah melihat bintang di Jakarta.

“Si tokoh adalah seorang pemulung. Suatu saat tempat tinggalnya digusur dan dia kembali ke kampung halaman di Kudus, Jawa Tengah. Di sinilah akhirnya dia menemukan tempat untuk melihat kerlap-kerlip bintang yang sebenarnya lampu dari puluhan rumah,” kata Tsaqiva.

Menurutnya, cerita ini sederhana, tapi sarat makna. Dalam cerita itu dia ingin berpesan bahwa jangan sampai keterbatasan menjadi pembatas dalam meraih mimpi.

”Saya belajar menjadi sutradara secara otodidak. Alhamdulillah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Omah Dongeng Marwah (PKBM ODM) banyak membantu dalam proses pembuatan film ini,” kata gadis yang hobi melukis itu.

Menjadikan cerpennya ke dalam bentuk film merupakan upayanya membuat karya yang komplet. Sebab, dalam film terdapat banyak unsur. Drama, musik, akting, skenario, semua harus dikombinasikan dengan baik.

”Dalam hal ini saya turun langsung dalam pemilihan cast,” imbuhnya.

Menjadi seorang sutradara, gadis berkulit putih itu mengaku banyak tantangan yang dihadapi. Dia dituntut pintar mengatur semuanya. Dia juga dipusingkan jadwal syuting yang sempat molor.

”Rencanaya target pembuatan film ini dua pekan saat liburan sekolah. Akhirnya molor hingga hampir delapan bulan,” ungkap perempuan yang beralamat di Jalan Ngasinan No. 9 Desa Purworejo, Kecamatan Bae itu.

Usahanya membuahkan hasil. Film yang sempat diputar di beberapa kota besar di Indonesia itu menuai respon positif. Penonton antusias menghadiri acara yang digelar di Jakarta, Salatiga, Semarang, Kudus, Purbalingga, Pati, dan Bandung.

”Saya ingin menyebarkan hal-hal positif lewat seni. Saya berharap agar anak Indonesia tidak menjadi generasi yang konsumtif. Tetapi bisa menjadi generasi yang produktif,”  paparnya.

 

(ks/ris/aji/JPR)