JAKARTA — Benarkah Indonesia menghadapi fenomena La Nina? La Nina dikaitkan dengan tanda-tanda anomali iklim global Apa itu La Nina?
Berkebalikan dengan El Nino, dikutip dari Weather.Gov, La Niña merupakan kejadian anomali iklim global yang ditandai dengan keadaan suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.
Kondisi ini biasanya diikuti dengan berubahnya pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer arah timur barat yang terjadi di sekitar ekuator) di atmosfer yang berada di atasnya dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.
Dikutip dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) La Niña dan El Nino memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman.
Pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pada bulan September-Oktober-November (SON), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia, sedangkan pada Desember-Januari-Februari (DJF), dan Maret-April-Mei (MAM), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.
Peningkatan curah hujan saat La Niña umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi dibandingkan curah hujan saat tahun Netral.
Namun, terdapat juga beberapa wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan lebih dari 40%.
Pada periode puncak musim hujan (DJF), La Niña tidak memberikan dampak peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat sebagai akibat interaksinya dengan sistem monsun.
Salah satu contoh La Niña kuat terjadi pada tahun 2010. Curah hujan rata-rata tiga bulanan di Indonesia saat itu umumnya masuk kategori di atas rata-ratanya.
Beberapa wilayah di Indonesia bahkan mengalami curah hujan tinggi yang ekstrem tinggi (extremely high rainfall), terutama pada periode Maret – April – Mei (MAM) hingga September – Oktober – November (SON) di Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan sebagian Kalimantan.
Berkebalikan dengan La Nina, El Nino Pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON) menyebabkan penurunan curah hujan di hampir seuruh wilayah Indonesia.
Pada Desember-Januari-Februari (DJF), El Nino umumnya berpengaruh pada menurunnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. Sedangkan pada Maret-April-Mei pengaruh El Nino pada curah hujan sangat beragam di berbagai wiayah di Indonesia.
El Niño kuat dalam sejarah juga tercatat pernah terjadi pada tahun 1997. Curah hujan tiga bulanan di Indonesia mengalami pengurangan yang sangat drastis sebagai dampak dari kejadian ini dan umumnya jauh lebih rendah dibandingkan rata-ratanya.
Beberapa wilayah Indonesia terutama di Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua bahkan mengalami curah hujan yang sangat rendah (extremely low rainfall) sepanjang tahun El Niño itu
Apakah saat La-Nina tidak ada kemarau?
Saat La Nina, sebagian besar wiayah Indonesia mengalami peningkatan curah hujan sebanyak 20-40% pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) dan September-Oktober-November (SON).
Sedangkan pada periode Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret-April-Mei (MAM) sebagian wilayah barat Indonesia mengalami peningkatan curah hujan karena pengaruh angin monsun.





