TANGERANG — Ketua RT 06 Perumahan Blok G3 No.18, Kel. Petir, Kec. Cipondoh, Tangerang, Banten beberkan keseharian pasangan suami istri (pasutri) yang tewas bersimbah darah dengan luka tusukan di sekujur tubuh.
Ketua RT Budi Sanyata (57) menjelaskan bahwa pasutri itu bernama BK (suami) dan RB (istri). Keduanya telah berumur sepuh, kisaran 60-70 tahun. Budi menyampaikan bahwa mereka sering meminta tolong kepada tetangga sekitar untuk berpergian menggunakan transportasi online (ojek online).
“Kan dia gak punya HP, jadi kalau misalkan bepergian, itu pasti tetangga tahu,” ujar Budi kepada awak media Jumat, 6 September 2024.
“Kenapa? misalkan kalau dia naik kendaraan kaya grab atau apa, itu pasti minta tolong sama yang depannya. Gitu ceritanya,” sambungnya.
Saat Rabu, 29 Agustus 2024, kata Budi, tetangga depan rumah korban turut mencari keberadaan pasutri itu. Namun, tidak ditemukan keberadaannya. “Terus yang depannya juga ikut nyari ‘ini kemana, pergi atau gak’ mereka juga gak pernah tahu, biasanyakan kalau pesan grab itu cuma nitip ke tetangga depan tuh, biasanya,” terangnya.
Bahkan, saat sang driver ojol itu sudah sampai di depan rumah korban, tetangga tersebut turut memastikan. Apakah kendaraan yang ditumpanginya benar atau tidak.
“Kalau sudah sampai di depan (ojol itu), mereka (tetangganya) juga meyakinkan mobilnya itu, ya biasalah namanya juga orang tua. Nah tapi saat itu gak pesen Grab, berartikan gak pergi,” imbuhnya.
Menurut pengakuan Ketua RT, sepasang lansia yang tewas itu tidak pernah mengeluhkan atas permasalahan yang ada. Dia pun tidak pernah curiga. Sebab, sang suami (BK) setiap hari nongkrong di pos keamanan pelayanan warga (balai RT). Namun sudah seminggu tidak pernah terlihat batang hidungnya.
“Kalau keluhan gak ada, yang jadi masalah karena setiap hari nongkrong di sini, Kitakan selalu mempertanyakan ‘kemana nih orang, kok gak pernah kelihatan’ padahalkan setiap hari ke sini. Bahkan tempat nyimpan rokoknya itukan di situ, di kulkas itu,” paparnya.
Lanjut Budi, BK memang aktif berkegiatan di masyarakat. Bahkan dirinya pun menunjuk BK sebagai penasihat RT di tempat perumahan ia tinggal. “Suaminya aktif di kegiatan warga. Dia jadi penasihat RT,” ucapnya.
Dalam kesehariannya, Budi mengungkapkan, mereka (korban) sering berkumpul dengan warga sekitar di balai keamanan (Pos RT) yang letaknya kurang lebih 200 meter dari rumah kejadian perkara.
“Terutama istrinya tiap hari itu nongkrong di sini (balai pos RT) nonton TV setiap hari,” ujarnya kepada awak media di balai keamanan RT Jumat, 6 September 2024.
“Kalau suaminya kan kadang masih dagang, masih dagang. Nah (suami) kalau pulang (dagang) ngerokok di sini. Pulang disini ngerokok disini malam baru bentar, sampai jam 9 baru pulang,” sambung Budi.
Dia pun menjelaskan, terakhir bertemu dengan pasutri itu sejak Agustus akhir bulan lalu. Biasanya RB (istri) setiap hari selalu mampir ke balai pos kemanan RT.






