Menanggapi seruan boikot, Danone Indonesia—produsen merek Aqua, SGM, dan Bebelac—berusaha menepis tudingan dengan mengutip laporan Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, bertajuk From economy of occupation to economy of genocide. Perusahaan menyebut namanya tidak tercantum dalam daftar yang dilaporkan.
Namun Sukron membantah relevansi klaim tersebut. Ia menilai laporan PBB memprioritaskan entitas yang beroperasi langsung di permukiman ilegal atau terlibat dalam aktivitas militer. Sementara itu, daftar boikot yang digunakan oleh aktivis mencakup perusahaan yang berkontribusi pada ekonomi nasional Israel serta upaya normalisasi kebijakannya.
Sukron menegaskan bahwa hubungan bisnis jangka panjang Danone dengan Strauss Group dan WILK menunjukkan tingkat keterlibatan ekonomi yang signifikan. “Bagi kami, setiap investasi di Israel adalah bentuk dukungan ekonomi terhadap pendudukan dan genosida terhadap rakyat Palestina, terlepas dari pembelaan Danone,” tutupnya.(*)






