“Magnitude kecil, tapi kalau gempanya dangkal membuat intensitasnya cukup kuat,” ujarnya seperti dilansir Jawa Pos, hari ini.
Selain faktor kedangkalan, lanjut dia, kondisi konstruksi bangunan juga sangat berpengaruh. Berdasarkan pengalamannya meneliti dampak-dampak kerusakan gempa di Indonesia, mayoritas bangunan atau rumah yang ada tidak didesain untuk anti gempa.
Oleh karenanya, dia menyarankan agar bangunan baru di Indonesia bisa disesuaikan. Mengingat rata-rata daerah di Indonesia memiliki potensi gempa masing-masing. Sehingga bisa meminimalkan korban akibat kerusakan bangunan.
Irwan menambahkan, dari segi keilmuan, gempa yang terjadi di Madura sangat menarik untuk dikaji. Pasalnya, selama ini, asumsi yang disampaikan sejumlah kalangan, kawasan madura relatif aman dan jauh dari sumber gempa.
Meskipun ada potensi di kawasan tersebut, namun selama ini belum banyak peristiwa yang membuktikan. “Beberapa riset sudah memprediksi, tapi selama ini buktinya sedikit. Nah ini (gempa rabu malam) membuktikan itu,” imbuhnya.
Selain di Semunep, Gempa juga melanda wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai pada 13/6 sampai 14/6. Setelah gempa pertama kali mengguncang dengan kekuatan 5,8 SR, terjadi gempa susulan sebanyak 12 kali. Gempa ini berpusat di laut dan berada di kedalaman 13 KM.





