Ini juga yang menjadi salah satu faktor Teguh dan Haroun masih belum berani menerjunkan mereka ke kompetisi resmi. Karena baru dirintis, mereka tak ingin gegabah dalam memajukan sepak bola putri.
“Kita minta mereka belajar lewat menjadi anak gawang,” tegasnya.
Hingga kini, tim Putri Pandhalungan baru dua kali diturunkan dalam pertandingan resmi dan satu pertandingan uji coba sebagai anak gawang. Menjadi anak gawang, kata Haroun, adalah media pembelajaran paling efektif.
Di sana, para pemain bisa belajar langsung bagaimana performa pemain sepak bola yang sudah lebih profesional.
“Itu untuk merangsang si anak, supaya mereka bisa melihat cara bermain tim sepak bola lain. Kita sekaligus memberi kesempatan untuk belajar dan mengamati bola,” lanjutnya.
Pihaknya juga masih belum berani mencoba latih tanding dengan tim sepak bola putri dari daerah lain. Selama ini, uji coba yang mereka jalani baru bersama tim sepak bola putra yang kemampuannya relatif lebih rendah.





