Di awal terbentuk, kegiatan SUSF berlangsung di Taman Suropati, Menteng, Jakarta, sekali dalam sebulan. Kemudian, hasil lelang jersey Bambang Pamungkas bisa digunakan untuk mengontrak rumah. Bepe -sapaan Bambang Pamungkas- merupakan salah seorang yang mendukung SUSF sejak awal. Namun, SUSF bukan rumah singgah. Anak-anak datang ketika ada kegiatan. Mereka tetap tinggal bersama keluarga, kakek-nenek atau om-tante jika orang tua sudah berpulang.
Selain kegiatan belajar, SUSF menyediakan kebutuhan nutrisi, susu, serta diaper untuk balita. Kemudian, setiap 6 bulan dilakukan tes CD4 untuk memeriksa jumlah sel CD4 dalam darah. Hasilnya menggambarkan fungsi sistem imun secara garis besar. “Hal-hal yang tidak ter-cover oleh BPJS, termasuk kebutuhan yang menjaga di RS. Misalnya, nenek atau keluarganya, kami support juga,” ujar Saif Atsalis, ketua SUSF. Jumlah sukarelawan saat ini 12 orang.
Untuk pendanaan, mereka tak hanya mengandalkan para donatur. Didukung banyak kalangan kreatif, mulai atlet, musisi, aktor, hingga jurnalis, mereka sering mengadakan event yang keuntungannya dialokasikan untuk yayasan. Misalnya, konser musik, pertunjukan wayang orang, festival film pendek, dan drama musikal. Sekarang pihaknya sedang menyiapkan drama musikal bertajuk Malaikat Kecil. Rencananya, drama itu dipentaskan pada Januari 2019.
Proses audisi sudah dilangsungkan. Drama musikal tersebut disutradarai aktris Sha Ine Febriyanti dengan didukung Ridho Slank sebagai music director. “Nantinya anak dengan HIV dan AIDS juga turut dilibatkan sebagai performer,” sahut Yudie. Tujuannya, menumbuhkan rasa percaya diri serta memberikan pembekalan agar anak-anak tersebut punya skill dan keterampilan sehingga mampu mandiri. Selain itu, lewat drama musikal tersebut, masyarakat diharapkan makin memahami dan tidak lagi memiliki stigma terhadap ODHA. Dengan pemahaman yang menyeluruh, diharapkan angka penularan HIV dan AIDS juga bisa ditekan.
Amel Shanie, mahasiswa London School of Public Relations yang menjadi salah satu volunteerpengajar, mengungkapkan pengalamannya. “Awalnya, jujur, saya sempat takut karena belum paham tentang HIV,” ujarnya. Tapi, setelah bergabung dengan SUSF, Amel langsung tersentuh. “Kali pertama datang dan ketemu adik-adik di sini, saya nangis,” kata Amel, yang mengajar bahasa Inggris.
Makin mengenal anak-anak tersebut, makin sering berinteraksi, membuat Amel sayang kepada mereka. Amel terinspirasi keceriaan dan semangat anak-anak tersebut. Meski mereka harus minum obat tepat waktu dua kali sehari tiap 12 jam. Misalnya, pagi pukul 07.00 dan malam pukul 19.00. Semangat mereka memang luar biasa. Salah seorang anak, sebut saja A, mengatakan senang belajar dan berkumpul dengan teman-teman di SUSF.



