Hingga kemudian lahirlah Syair Untuk Sahabat Foundation (SUSF) pada 2009 yang memiliki misi mengajak masyarakat peduli AIDS, memberdayakan ODHA agar bisa hidup mandiri. “Masyarakat tahu HIV/AIDS, tapi belum punya pengetahuan mendalam,” ucap Yudie. Stigma-stigma yang salah di antaranya mengira HIV bisa menyebar lewat udara dan bersalaman dengan ODHA bisa tertular.
Belum lagi diskriminasi dan penolakan-penolakan. Yudie mencontohkan, ada anak yang dikeluarkan dari sekolah setelah pihak sekolah mendengar bahwa anak tersebut terpapar HIV. Pindah ke sekolah berikutnya, kejadian yang sama terulang, dia kembali diminta keluar. “Banyak kasus seperti itu. Padahal, penolakanlah yang sesungguhnya lebih ‘membunuh’ ketimbang virusnya,” ungkapnya.
Hasil riset Pusat Data Informasi HIV/AIDS dari Kementerian Kesehatan sejak 1987 hingga 2014 menunjukkan, yang paling banyak terpapar HIV adalah ibu rumah tangga. Seorang ibu hamil yang terpapar HIV belum tentu menularkan virus tersebut kepada janinnya dengan terapi pengobatan dan pemilihan proses persalinan.
SUSF memutuskan untuk concern kepada bayi dan anak-anak dengan harapan bisa menyelamatkan masa depan mereka, memberikan edukasi yang tepat, serta membantu menekan angka persebaran HIV dan AIDS. Saat ini ada 80-an anak yang tergabung dalam SUSF. Rentang usia mereka 0-16 tahun.
Mereka terbagi dalam tiga jenjang. Yaitu, 0-7 tahun, 8-11 tahun, dan 12-16 tahun. Untuk kelompok 0-7 tahun, lebih banyak permainan yang menstimulasi sisi kreatif. Kelompok 8-11 tahun diajari bahasa Inggris, matematika, dan lainnya. Untuk usia 12-16 tahun, pembelajaran sesuai minat. Misalnya, menulis, fotografi, dan main musik.



