Apalagi, dia memang dibesarkan oleh keluarga yang bergelut di usaha kayu. Tapi kayu untuk keperluan mebel ataupun perkakas rumah tangga. “Ndak tahu ya…, saya suka saja sama kayu. Setiap bilahnya itu punya motif yang pasti beda. Alami,” aku Retno, sambil jemarinya menyentuh bilahan kayu di depannya.
Wanita kelahiran 1987 ini mengatakan bila ia dan suaminya mempelajari seni ukir siluet secara otodidak. Dengan mengukir foto mereka berdua. Dari sanalah awalan mereka sebelum mampu menjual produk mereka sampai ke Jakarta hingga Batam. “Dari pemasaran kami hanya melayani pesanan secara online,” jelas Retno.
Pasangan David – Retno tak terlalu kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Sebab, mereka memanfaatkan limbah bekas kayu peti kemas. Yang biasa disebut sebagai jati belanda. “(Bahan) ini memang limbah. Dari pohon jati Belanda,” ujar wanita yang pernah bekerja di salah satu bank syariah di Samarinda ini.
Saat ini, keduanya tak terlalu memperhatikan soal omset. Yang penting saat ini adalah usaha mereka bisa berkembang. Dan bisa memenuhi kebutuhan mereka. “Yang lebih penting lagi, orang tahu dan kenal produk kami,” tegasnya.
(rk/*/die/JPR)



