Setelah jadi, karya itu mereka share ke grup WhatsApp yang berisi teman-teman SMP-nya. “Eh, tak tahunya ada yang langsung pesan,”
kenang David sembari melepas tawa. Sontak, respon positif itu langsung memunculkan ide baru. Keduanya pun membulatkan tekad menekuni bidang itu. Sekaligus mengembangkannya.
Pasangan yang menikah setahun lalu ini mengaku bila sebelumnya mereka beberapa kali merintis usaha di beberapa bidang. Tapi, semua berakhir dengan kurang memuaskan. Baik itu di bidang jual beli material hingga katering roti dan biscuit.
Ada yang gagal, ada juga yang berhenti karena keduanya merasa kelelahan. Seperti bisnis kateringnya itu. Akhirnya mereka tutup setelah merasa kelelahan.
“Kami itu awalnya sama-sama kerja. Lalu menikah dan memutuskan untuk usaha apapun saja yang menghasilkan,” kata laki-laki 32 tahun ini.
Setelah gagal di bisnis jual beli material dan katering, pasangan ini pun mendapat sebersit harapan dari ‘hobi’ membuat ukiran siluet. Keduanya juga sempat mengikutkan karyanya di pameran. “Ndak nyangka dapat kesempatan ikut pameran di Kras. Waktu ada kunjungan Dirjen Kementerian Ketenagakerjaan,” terang David tersenyum bangga.
Pria alumnus jurusan sastra Inggris UNP Kediri ini mengaku terjun ke dunia ukir-mengukir karena memang cinta kayu. Bahkan, bukan hanya dirinya saja yang cinta kayu. Sang istri pun demikian.



