“Belum ada data bahwa BA.4 atau BA.5 menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada subvarian Omicron yang beredar saat ini,” tegasnya.
Sebaran BA.4 dan BA.5 di dunia, sejak pertama diidentifikasi di Afsel awal tahun ini, persebaran BA.4 dan BA.5 memang cukup pesat di berbagai negara. Salah satu contoh di Amerika Serikat. Pada awal Mei hanya 1 persen. Tapi, saat ini BA.4 dan BA.5 menyumbang 21 persen kasus baru di AS. Dan, di Indonesia sudah ditemukan 20 kasus Omicron BA.4 dan BA.5.(*)






