“Dalam sejarah 20 tahun belum bisa kalahkan Thailand,” paparnya. Dalam kesempatan yang sama, Menkeu Sri Mulyani Indrawati menyinggung riset peneliti Indonesia yang belum banyak masuk tahap fase produksi masal.
Dia mengaku bahwa pemerintah memiliki keterbatasan anggaran, khususnya untuk dana riset. Untuk itu dia berharap ada optimalisasi dana riset yang tersedia.
Sri Mulyani berharap dana riset yang tersedia benar-benar diperuntukkan kegiatan riset. “Saya tidak anti perjalanan dinas,” katanya. Hanya saja perjalanan dinas yang menggunakan dana riset, harus terkait dengan kegiatan riset atau penelitian yang sedang digarap.
Di hadapan para rektor, Sri Mulyani memaparkan bahwa anggaran pendidikan di APBN 2018 mencapai Rp 444,13 triliun. Dana ini termasuk transfer ke daerah, pembiayaan 400 ribuan peserta program Bidik Misi, 56 juta paket dana bantuan operasional sekolah (BOS), serta pembayaran tunjangan profesi guru untuk 435 ribu guru PNS maupun non PNS.
Sri Mulyani menjelaskan porsi dana pendidikan Indonesia sebanyak 20 persen dari APBN. Porsi itu ternyata sama dengan alokasi dana pendidikan Vietnam. Tapi sayangnya dia menerima laporan dari PISA kualitas pendidikan Vietnam lebih baik dibanding Indonesia.
“Kenapa tidak bisa sama seperti Vietnam. Padahal sama-sama 20 persen. Ini PR bersama,” katanya. Dia berharap ada peningkatan strategi pendidikan serta belajar dan mengajar. (wan)





