Untuk Milenial Sukabumi, Ini Tips Cerdas Kelola Keuangan dari Hergun

  • Whatsapp
Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan berdialog dengan milenial mahasisa UMMI tentang pengelolaan keuangan, Senin (9/3/2020)

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan menyebutkan, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia berdasarkan data statistik usia. Generasi milenial yang mendominasi penduduk Indonesia sekitar 81 juta penduduk saat ini, yang artinya lebih dari 32 persen dari total populasi di Indonesia.

“Generasi inilah yang mewarisi masa depan keluarga dan bangsa, karena berada dalam rentang usia produktif,” kata Heri Gunawan saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), Senin (9/3/2020)

Bacaan Lainnya

Hergun, sapaan akrabnya, menyebutkan ada lima cara agar milenial dapat mengelola keuangan dengan baik. Yakni kecerdasan penghasilan, kecerdasan mengelola, kecerdasan mengembangkan uang, kecerdasan proteksi dan kecerdasan mencari informasi.

Legislator Senayan asal Sukabumi ini memaparkan, hasil ngobrol dengan para mahasiswa menunjukkan kecenderungan tidak banyak menabung apalagi berinvestasi meskipun mereka sebenarnya ingin tahu dan ingin belajar.

“Kebanyakan mengatakan mereka tidak bisa menabung dan investasi karena tidak punya uang lebih. Ketika digali lebih dalam lagi, kebanyakan pengeluaran mereka habis untuk nongkrong di kafe sepulang kantor atau pulang kuliah dan hal ini dilakukan hampir setiap hari,” ujar Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Gerindra pada DPR RI.

Dia pun memberikan simulasi, apabila sekali duduk menghabiskan Rp 50.000 – Rp 100.000 maka per minggu milenial bisa menghabiskan Rp 250.000 – Rp 500.000 dalam konteks hanya menghitung hari kerja saja, tidak menghitung pengeluaran weekend. Artinya secara rata-rata para milenial menghabiskan Rp 1 juta – Rp 2 juta per bulan sekadar untuk nongkrong saja.

“Enggak heran kalau mereka tidak bisa menabung dan investasi,” cetusnya.

Dengan simulasi ini, tampak bagaimana generasi milenial tidak siap secara finansial. Padahal ketika mereka beranjak dewasa hingga tua, kebutuhan hidup pun kurang lebih sama banyak dan pentingnya seperti generasi sebelumnya alias generasi X dan Baby Boomer). “Itulah sebabnya penting juga bagi generasi milenial untuk belajar mengelola keuangan dan investasi,” tutur Heri Gunawan.

Kurangnya pengetahuan tentang produk dan jasa keuangan, lanjut Heri Gunawan, membuat masyarakat enggan untuk berhubungan dengan dunia keuangan. Berdasarkan Survey Nasional Literasi & Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada tahun 2019 tercatat indeks Literasi Keuangan 38,03% dan Indeks Inklusi Keuangan 76,19%.

Literasi terkait pada pemahaman publik akan pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap dan perilaku terhadap lembaga, produk dan jasa keuangan. Inklusi terkait pada peningkatan akses penggunaan lembaga, produk dan jasa keuangan yang ada. Masih terdapat ketimpangan literasi yang cukup besar berikut ketimpangannya antara penduduk kota dan pedesaan.

“Lalu perkembangan industri keuangan malah dianggap negatif dan merugikan masyarakat, diantaranya pesatnya teknologi finansial (p2p lending) dan maraknya kembali investasi bodong dalam berbagai bentuk. Hal tersebut tentunya akan menjadi masalah dalam sektor perekonomian Indonesia,” jelas dia.

Seyogyanya, imbuh Ketua DPP Partai Gerindra, membiasakan diri dengan menabung dari kecil dapat membentuk sifat hemat, berfikir jauh ke depan, displin dan mampu mengelola uang dengan baik. Dalam hal ini perlu adanya pemahaman terkait maksud dan tujuan diselenggarannya sosialisasi tersebut.

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *