Tim Animal Rescue Kota Sukabumi Evakuasi 49 Ekor Ular Sepanjang Tahun 2022

Damkar Kota Sukabumi
Sejumlah petugas Damkar Kota Sukabumi saat melakukan evakuasi ular di Jalan Sarasa, Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum.

SUKABUMI— Sepanjang tahun 2022, tim animal rescue dari petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Sukabumi telah mengevakuasi sebanyak 49 ekor ular. Angka penemuan ular mengalami peningkatan di dua bulan terakhir tahun ini, dan yang mendominasi salah satunya ular sanca.

Kepala Bidang Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Kota Sukabumi Sudrajat mengatakan, masuknya ular ke permukiman warga disebabkan oleh berbagai faktor, Kebanyakan secara perhitungan ular masuk ke pemukiman memang di cuaca yang berubah-ubah dari panas ke hujan.

Bacaan Lainnya

“Dan hujan ke panas kadang berpengaruh ke ular juga, sehingga ular itu tidak tahan dengan hawa dingin, mereka akan mencari tempat yang bisa menghangatkan tubuhnya, jadi banyak keluar dari sarangnya,” ujar Ajat kepada Radar Sukabumi, belum lama ini.

Sudrajat mengungkapkan, makanan yang ada di habitatnya pun cenderung berkurang. Sehingga, terpaksa turun ke pemukiman untuk mencari makan, salah satunya ayam yang menjadi sasaran.

“Jadi banyak yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan ke pemukiman warga. Kebanyakan yang tertangkap ini ular yang cari makan, sasaran kebanyakan ayam. Kemudian Minggu lalu empat ayam mati, dari situ ada beberapa kali lagi penemuan-penemuan termasuk di rumah sakit Bhayangkara Setukpa Polri, cuma ukurannya kecil diameter 80,” ungkapnya.

Sudrajat menambahkan, ular sanca menjadi dominasi ular yang dievakuasi petugas. Sementara itu, ular kobra dan king kobra yang masuk kategori ular mematikan sangat jarang ditemukan di Kota Sukabumi.

“Jadi kebanyakan di bulan November-Desember mengalami peningkatan khususnya di ular jenis sanca. Kelihatannya ini belum masuk musim bertelur, memang kemungkinan dari cuaca saja, kalau kobra agak jarang-jarang,” bebernya.

Sudrajat juga menjelaskan penanganan ular-ular yang berhasil dievakuasi. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk pelepasan ular-ular itu ke habitatnya.

“Hasil tangkapan ular biasanya tidak langsung di release. Kita cek dulu ular itu dalam keadaan sehat atau stress karena dari tangkapan warga kan ada yang terluka, kita obati dulu biar sembuh terus tingkat stressnya berkurang, lalu kita koordinasikan dengan BKSDA,” jelasnya.

Lanjutnya, lokasi pelepasan ular yang telah di-rescue rata-rata di hutan Goalpara dan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi. Bahkan, beberapa petani di daerah meminta agar ular itu dilepas di sekitar sawah agar tikus yang merusak lahan pertanian dapat berkurang.

“Kadang-kadang ada warga yang membutuhkan ular, pertanian mereka banyak dihancurkan oleh tikus ya, kalau ada ular tikusnya dimakan ular. Ada petani yang menginginkan dilepas di situ,” pungkasnya. (cr4/t).

Pos terkait