Puluhan Hektar Sawah Gagal panen

GUNUNGGURUH— Akibat irigasi Cipendeuy yang tidak berfungsi baik, puluhan hektare lahan pertanian padi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, terancam gagal panen. Selain irigasi yang menjadi masalah, musim kemarau juga menjadi salah satu alasan. Berdasarkan laporan yang diterima koran ini, banyaknya pintu irigasi yang rusak dan bocor, juga banyak terjadi pendangkalan disepanjang saluran irigasi. Sehingga air untuk mengairi lahan pertanian tidak bisa mengalir maksimal.

Kepala Desa Sirnaresmi, Rizal Indarsyah mengatakan, saluran irigasi Cipeundey merupakan saluran air utama bagi warga untuk bisa mengairi lahan pertaniannya di Desa Gunungguruh, Desa Kebonmanggu dan Desa Sirnaresmi Kecamatan Gunungguruh serta Desa Kertaraharja dan Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar.

Bacaan Lainnya

“Namun karena airnya tidak mengalir maksimal, maka banyak petani yang tidak bisa bercocok tanam. Bahkan, untuk musim panen padi kemarin, sekitar 10 hektare lebih lahan pertanian tidak bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya, karena tidak teraliri air,” jelas Rizal saat disambangi Radar Sukabumi di Kantor Desa Sirnaresmi, kemarin (27/9).

Dirinya mengaku, sudah berupaya berulang kali menyampaikan aspirasi warganya kepada pemerintah daerah. Seperti mengajukan proposal ke Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Kabupaten Sukabumi untuk pembangunan normalisasi sepanjang saluran irigasi tersebut. Namun hingga saat ini, bantuan tersebut belum juga terealisasi. “Kalau musim hujan warga di sini masih bisa bercocok tanam. Tetapi jika sudah musim kemarau, para petani tidak bisa menanam padi, karena sawahnya kering,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi gagal panen, pihaknya berencana akan memanfaatkan dan memfungsikan kembali air sumur bor yang berada di wilayah Al-Huda untuk di distribusikan ke lahan pertanian warga sekitar. “Sumur bor yang dibangun oleh pemerintah provinsi pada 15 tahun silam ini, memiliki kedalaman sekitar 200 meter. Kalau difungsikan kembali, sumur bor ini dapat mengairi lahan pertanian padi sekitar 40 hektare,” paparnya.

Saat ini, sumur bor yang dibangun menggunakan anggara dari APBD Provinsi Jawa Barat tersebut, kondisinya tidak terawat. Lantaran, warga terkendala oleh biaya bahan bakar solar untuk menghidupkan mesin diesel sumur bor. “Sebenarnya dulu sumur bor ini, diperuntukan untuk lahan pertanian. Namun, karena terkendala dengan biaya yang tinggi, karena menggunakan bahan bakar solar. Makanya sempat vakum. Untuk itu, kita berencana akan mengganti mesin diesel ini, dengan menggunakan KWh dengan daya sekitar 500 Watt,” paparnya.

 

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.