Ledakan Kasus Kekerasan Seks pada Anak

CIKOLE – Pemda Kota Sukabumi melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPKBP3APM) mulai bergrilya ke lingkungan sekolah untuk menyosialisasikan pencegahan kekerasan seks terhadap anak.

Seperti diketahui sepanjang dua tahun terakhir ini jumlah kasus kekerasan seks terhadap anak di wilayah Kota Sukabumi melonjak hingga mencapai 405 kasus. Rinciannya, sebanyak 190 kasus terjadi sepanjang 2016. Sedangkan pada tahun ini terhitung dari Januari hingga September 2017 lalu, jumlahnya jauh lebih tinggi yakni mencapai 215 kasus.

Bacaan Lainnya

Kepala DPPKBP3APM Kota Sukabumi Lilis Astri Suryanita mengatakan sejauh ini kelembagaannya telah intens melakukan sosialisasi tentang pencegahan kekerasan seks terhadap anak, terutama di lingkungan sekolah.

Selain mendatangi lingkungan pendidikan, sosialisasi juga digemakan melalui siaran radio serta pemasangan bilboard di lokasi keramaian. Langkah tersebut semata-mata dilakukan untuk mempertahankan predikat Kota Sukabumi sebagai kota layak anak yang diraih sebanyak empat kali, terakhir predikat tersebut diterima di Pekanbaru, Riau pada Juli 2017 lalu.

Disebutkan Lilis penghargaan tersebut merupakan bukti adanya perhatian dan keberpihakan dari pemerintah daerah terhadap perlindungan anak-anak. Sehingga anak-anak nantinya bisa hidup pada zona aman, nyaman, dan mandiri. “Termasuk memberikan pelatihan kepada guru bimbingan konseling (BK), Petugas Layanan KB, kader posyandu, camat, lurah hingga babinsa dan bhabinkamtibmas,” ujar Lilis.

Pelatihan dan pembekalan itu ditujukan agar para guru dan elemen masyarakat lainnya bisa mencegah sekaligus dapat bertindak cepat dalam menanggapi dan menangani kasus kekerasan sesk anak. “Tujuan akhirnya adalah menekan angka kekerasan seks pada anak di wilayah ini,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Sukabumi Joko Kristianto menyebutkan hingga triwulan ketiga 2017 tercatat ada 215 kasus yang ditangani P2TP2A.

Dari ratusan kasus ini yang paling banyak terlaporkan adalah kekerasan seksul terhadap anak.
Sekitar 45 persen dari ratusan kasus itu merupakan kekerasan seksual terhadap anak.

Sementara sisanya adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penganiayaan, pola asuh, perdagangan manusia atau trafficking dan kasus psikotik. Khusus untuk tindak kekerasan seksual terhadap anak, telah terjadi pergeseran atau perubahan dibandingkan sebelumnya.

“Pada tahun ini korban kekerasan seksual kebanyakan berjenis kelamin perempuan yang usianya bervariasi antara 12-16 tahun. Sementara tahun sebelumnya korban kekerasan seksual paling banyak berjenis kelamin laki-laki,” ungkap Joko. (cr11/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *