DWP Ingatkan ‘Pelakor’ di Masa Pandemi

  • Whatsapp
Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Sukabumi menggelar acara Web binar dengan tema penyakit lansia dan Komordid ( Pelakor).

SUKABUMI – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Sukabumi menggelar acara web binar dengan tema penyakit lansia dan Komorbid ( Pelakor) di tengah pandemi Covid-19. Acara tersebut dalam upaya menekan jumlah pasien covid -19 di tengah masyarakat.

“Kita ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tetap waspada dan menggunakan protokol kesehatan untuk memutus mata rantai Covid-19, terutama para lansia,” ujar Ketua DWP Kota Sukabumi, Sufiani, kemarin (16/10).

Bacaan Lainnya

Web binar ini dalam rangka turut mensukseskan program Pemerintah yaitu dengan berkolaborasi dengan Jubir Tim Gugus Tugas Penanganan dan percepatan Covid -19 Kota Sukabumi.

Dalam Webbinar tersebut yang menjadi Pembicara adalah Penasehat DWP Kota Sukabumi, Hj. Fitri Hayati Fahmi dan Jubir Covid -19 Kota Sukabumi, dr. Wahyu Hendriana.

Sementara itu, Penasehat DWP Kota Sukabumi, Hj. Fitri Hayati Fahmi mengatakan para lansia di Kota Sukabumi ini harus dilindungi. Makanya, dalam webbinar ini dipilih tema Penyakit Lansia dan Komordid ( pelakor).

“Ini sebagai bentuk konsen untuk menekan jumlah pasien positif covid -19 di Kota Sukabumi terutama kalangan lansia,” ujarnya.

Sementara itu Jubir Gugus tugas dr Wahyu mengatakan bahwa Satgas Penanggulangan dan percepatan covid -19 dalam kesempatan tersebut menyampaikan pengetahuan tentang penularan covid -19 kepada para ibu-ibu Dharma wanita persatuan di Kota Sukabumi, apalagi kasus kematian covid -19 di Kota Sukabumi berasal dari kalangan lansia.

“Saya coba menjelaskan pengetahuan mengenai penularan Covid-19. Agar ibu-ibu Dharma wanita ini bisa lebih waspada,” ungkapnya.

Harapannya kedepan kata Wahyu tidak akan terulang kasus yang sama, maka dari itu harus mensosialisasikan bahwa lansia ini harus kita lindungi, termasuk yang memiliki penyakit komordid.

“Supaya mereka tidak tertular dari orang konfirmasi positif tapi dengan status Orang Tanpa Gejala ( OTG),” pungkasnya. (bal)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *