30 Persen Pasar Furnitur Dikuasai Tiongkok

JAKARTA – Kemudahan dalam mendapatkan bahan baku belum berhasil membuat industri furnitur Indonesia, mengalahkan negara Asia lainnya untuk merebut pasar Amerika Serikat (AS).

Presiden Direktur PT Integra Indocabinet Halim Rusli menyatakan, hanya 250 di antara seribu pebisnis furnitur tanah air yang melayani pengiriman 40–60 kontainer untuk ekspor.

Sebab, masih banyak industri furnitur di Indonesia yang terkendala peraturan pemerintah terkait sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK). Menurut Halim, persaingan ekspor furnitur di AS cukup ketat.

”Di Amerika Serikat, Tiongkok mendominasi 50 persen dan Vietnam 13 persen. Indonesia baru tiga persen,” ungkap Halim.

Padahal, melihat potensi bahan baku dan sumber daya manusia di Indonesia, seharusnya furnitur tanah air mempunyai peluang yang bagus. ”Meskipun di Amerika pasar Indonesia hanya tiga persen, kami optimistisindustri furnitur di Indonesia akan bangkit. Sebab, bahan baku furnitur di Indonesia sangat melimpah,” ujarnya.

Dia menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok dan Vietnam sulit mendapatkan bahan baku. ”Dua negara tersebut saat ini lebih banyak impor untuk bahan bakunya. Kena antidumping, tenaga kerja jadi mahal,” terang Halim. Hal itu merupakan kesempatan bagi pemain furnitur Indonesia untuk merebut pasar.

”Harus yakin mampu merebut pasar,” imbuhnya.
Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) Jawa Timur Nur Cahyudi menuturkan, pengusaha mebel perlu menerapkan strategi marketing yang andal, terutama dari sisi promosi. Sebab, secara nasional, sekitar 50 persen pasar mebel di segmen menengah ke bawah telah dikuasai produk impor.

Di Jawa Timur, 30 persen pasar mebel dikuasai produk dari mancanegara. Yang mendominasi adalah Tiongkok. ”Selain merebut pasar ekspor, pasar domestik harus bisa dikuasai sendiri. Pengusaha mesti berani promosi,” ucapnya. (car/c18/sof/jpnn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.