Ceu Popong Sebut Kota Sukabumi Miliki Toleransi Tinggi

Ceu-Popong
Popong Otje Djundjunan atau akrab disapa Ceu Popong saat menjadi pembicara di acara talkshow kebangsaan di Kota Sukabumi.

SUKABUMI — Mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Popong Otje Djundjunan menyebutkan, Kota Sukabumi dilirik sebagai salah satu daerah yang memiliki toleransi tinggi. Pasalnya, sangat jarang terjadi konflik antar masyarakat yang disebabkan perbedaan etnis, suku, agama, ras maupun golongan.

Hal itu, diungkapkan saat talkshow kebangsaan yang digagas Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) di Sekretariat bersama lima perkumpulan warga Tionghoa Sukabumi, Kompleks Danalaga Square, Kecamatan Warudoyong. “Pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan,” ungkap Popong kepada wartawan, Rabu (10/8).

Bacaan Lainnya

Lanjut Popong, keberadaan FPK sebagai bagian mitra pemerintah untuk ikut serta menjaga persatuan dan kesatuan sebagaimana amanah dari para pejuang terdahulu. “Ada empat empat amanah dari para pendahulu. Yakni, lindungi bangsamu, sejahterakan bangsamu, cerdaskan bangsamu dan pelihara perdamaian dunia. Semua itu tugas kita yang masih hidup. FPK tidak semata dibentuk jika bukan karena empat amanat itu,” bebernya.

Popong memaparkan, makna persatuan dan kesatuan itu tidak sama, tapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Memaknai persatuan itu, semua orang bersama tapi tidak harus sama. Sementara bicara tentang kesatuan, terdapat lima hal yang tidak ada tawar-menawar lagi.

“Misanya, di Indonesia itu ada Bahasa Sunda, Jawa dan lain sebagainya. Tapi ketika bicara kesatuan, maka kita menjungjung Bahasa Indonesia. Lalu, di Indonesia ini terdiri dari berbagai suku dan etnis. Tapi kalau bicara kesatuan semuanya adalah Bangsa Indonesia, mau matanya sipit, mata belo, dan sebagainya. Ketiga, kita sama-sama menjunjung tinggi bendera merah putih,” ujarnya.

Terkhusus memaknai bulan kemerdekaan ini, sambung Ceu Popong, berpesan generasi masa sekarang harus bisa meneruskan perjuangan para pendahulu yang sudah merebut kemerdekaan dari para penjajah. “Kemerdekaan kita tidak didapat begitu saja. Melainkan, berkat perjuangan luar biasa para tokoh terdahulu. Jadi pengorbanan para pendahulu kita itu luar biasa. Nah, kewajiban kita bukan lagi seperti dulu. Apalagi kemerdekaannya juga sudah diterima,” ucapnya.

Di tempat sama, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Jawa Barat, Dr Djoni Toat menambahkan, Sukabumi sebagai daerah yang patut dicontoh dalam memelihara keberagaman, kekompakan dan kebhinekaan tanpa melihat perbedaan menjadi sebuah persoalan. Hal itu, menjadi fokus FPK sebagai mitra pemerintah agar suasana kerukunan semacam itu bisa tetap terjaga.

“Kami melihat FPK sangat diperlukan untuk mengantisipasi konflik yang mungkin terjadi. Apalagi sekarang menjelang tahun politik, sangat rentan. Perlu ada kesamaan visi untuk terus menjaga kebersamaan,” imbuhnya.

Memaknai kemerdekaan, sambung Djoni, tak jarang FPK juga menggelar kegiatan atau perlombaan. Bahkan tak jarang diiringi kegiatan bakti sosial. “Mengenai pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, menanamkan jiwa toleransi juga, sejak dari lingkungan keluarga, hingga ruang lingkup negara yang lebih luas,” pungkasnya. (bam)

Ceu-Popong
Popong Otje Djundjunan atau akrab disapa Ceu Popong saat menjadi pembicara di acara talkshow kebangsaan di Kota Sukabumi.

Pos terkait