Lebih jauh, ia mengajak sekolah untuk menjadikan budaya bertutur, membaca, dan berkesenian sebagai bagian dari pendidikan karakter. Kegiatan seperti bercerita, membaca nyaring, teater, hingga pementasan budaya dinilai mampu mengasah kreativitas sekaligus memperkuat rasa percaya diri anak-anak.
Dalam konteks budaya Sunda, Ranty menilai nilai-nilai Panca Waluya yang meliputi cageur, bageur, bener, pinter, dan singer masih relevan sebagai pedoman pembentukan generasi masa depan. Filosofi tersebut menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari integritas, kepedulian sosial, kesehatan jasmani dan rohani, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. (ris/d)





