Berburu Baju Lebaran, Jangan Abaikan Prokes

  • Whatsapp
Sejumlah warga saat berkerumun di pusat perbelanjaan di sekitar Jalan Harun Kabir, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.

SUKABUMI – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, ribuan warga memadati pusat perbelanjaan yang berada sekitar Jalan A Yani dan Jalan Harun Kabir Kota Sukabumi Kecamatan Cikole, untuk berburu baju lebaran.

Dari pantauan Radar Sukabumi, sejak sekitar pukul 9.00 WIB sudah mulai berdatangan hingga memadati jalan raya. Sejumlah petugas kepolisian pun terlihat sibuk memberikan imbauan untuk memakai masker kepada warga yang melintas.

Salah seorang pengunjung, Rio Aditia (26) mengaku kedatangannya ke pusat perbelanjaan untuk mencari baju lebaran untuk anak dan istrinya. “Saya sengaja belanja baju jauh hari sebelum hari H lebaran karena pasti sangat berdesakan,” kata Rio kepada Radar Sukabumi, Kamis (6/5).

Lanjut Rio, meski berdesakan tetapi selalu menerapkan protokol kesehatan salah satunya menggunakan masker. “Selain masker saya juga membawa hand sanitizer untuk mencuci tangan. Karena saya juga takut terpapar Covid-19,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan pengunjung lainnya, Aas (40) menuturkan, kedatangannya ini untuk mencari baju untuk dipakai di hari raya. Menurutnya, hal itu sudah menjadi tradisi. “Saya datang ke pusat kota menu membeli pakaian buat di hari lebaran nanti. Dan mungkin hampir semua yang datang ke kota sama tujuannya mencari baju lebaran,” singkatnya.

Sementara itu, Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi mengaku bersyukur perekonomian di Kota Sukabumi sudah kembali bergerak. Tapi disisi lain khawatir terjadinya penambahan kasus baru Covid 19. ”Kami bersama Kapolres di hari Sabtu Minggu mantau langsung kelapangan. Dan mengingatkan para pengelola usaha untuk menerapkan Protokol Kesehatan,” ujarnya.

Dikatakan Fahmi pengelola usaha harus memberlakukan Prokes dengan mengatur jumlah pengunjung yang disesuaikan dengan kapasitas tempat usahanya. Sehingga tidak terjadi kerumunan disetiap toko atau mall. ”Bisa menggunakan checker, dibatasi pengunjungnya. Lalu gunakan sistem tutup buka. Kalau padat tutup dulu, nanti buka lagi,” jelasnya.

Memang diakui Fahmi dalam mengatur itu cukup sulit. Untuk itu pihaknya meminta bantuan kepolisian untuk mengaturnya. ”Sanksi buat pengelola memang Belum ada. Tapi kamu terus mengedukasi masyarakat dengan edukatif,” pungkasnya. (bam/t)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *