KABUPATEN SUKABUMI

Soal Kematian Bocah SD di Sukaraja Sukabumi, Dua Dokter Berbeda Pendapat

×

Soal Kematian Bocah SD di Sukaraja Sukabumi, Dua Dokter Berbeda Pendapat

Sebarkan artikel ini
Dokter-Porensik Sukabumi
Wakil Direktur Medis Rumah Sakit Umum (RSU) Hermina Sukaraja. dr. Andreansyah Nugraha didampingi Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Ari dan Dokter Spesialis Forensik RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi, dr. Nurul Aida Fathia

Dirinya juga mengaku sudah menginformasikan kondisi kesehatan korban kepada pihak keluarganya, tepatnya saat sebelum tindakan kegawatan. Ia pun menduga, korban terserang penyakit tetanus karena disinyir korban tidak mendapatkan imunisasi tetanus secara utuh.

“Waktu itu, kita sempat tanyakan riwayat imunisasi kepada pihak keluarganya, ternyata dari orangtua memang riwayat imunisasinya tidak lengkap. Hanya saja, orangtua korban mengaku tidak tahu, sehingga tidak dilakukan imunisasi tetanus,” bebernya.

Bank bjb Tandamata

“Kita juga lakukan pertemuan lagi dengan keluarga dan beberapa saudaranya. Untuk ada beberapa pertanyaan. Itu tadi sebelum pasien menjelaskan juga kita ada kecurigaan penyebab tetanus. Makanya, kita konfirmasi ke pasien dan keluarganya apa ada riwayat trauma. Kita cek, kata keluarga, tidak ada riwayat. Dari pasien juga tidak mengiyakan, karena kondisi mulut kaku tapi bisa merespon antara mengangguk iya atau tidak,” ujarnya.

Menurutnya, penyakit tetanus dari sisi medis sangat menimbulkan kematian. Makanya, pada kesempatan tersebut, ia berniat menginformasikan karena ini angka moralitas tinggi. Terlebih lagi, pemerintah mewajibkan imunisasi dasar vaksin tetanus. Karena, mendapatkan angka vitalitas tinggi

“Yang jelas untuk masalah itu, kita kan nggak tau ini pernah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit sebelumnya. Yang kita tanyakan ini, karena ada kaku pada bagian tubuh korban. Makanya, kita curiga ke tetanus. Nah, yang kita gali ke situ dan yang kita gali kenapa penyakit ini bisa terjadi,” bebernya.

Sementara, terkait gangguan paru, menurutnya hasil daripada rontgen ia membenarkan bahwa hasilnya selaras dengan gejala korban yang sempat mengalami riwayat penyakit batuk. “Kita konfirmasi, di rontgen untuk mengetahui tulangnya. Jadi, pasien ini bisa infeksi bakteri, bisa juga karena tertular, infeksinya bisa karena sering korek-korek telinga,” ujarnya.

Ketika disinggung mengenai adanya sebagian luka-luka pada tangan korban. Ia menjawab, bahwa sesuai dangan prosedur yang disebut dengan renstren, ketika pasien mengalami kejang-kejang dan ngamuk-ngamuk atau tidak kooperatif yang bisa mencederai dirinya sendiri.

Maka, upaya tindakan secara prosedur dilegalkan. Untuk itu, sewaktu pasien mengalami kejang-kejang, tim medis mengikat kedua tangannya. “Iya, karena fungsinya untuk menyelamatkan pasien itu, sendiri. Jika tidak dilakukan, justru itu bisa berbahaya. Karena, bisa mencelakakan atau bisa membuat kondisi semakin berat,” tukasnya.

Masih ditempat yang sama, Dokter Spesialis Forensik RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi, dr. Nurul Aida Fathia mengatakan, sewaktu melakukan ekhsumasi, kondisi jasad bocah tersebut sudah mengalami pembusukan lanjut.

Ini terjadi karena ekshumasi dilakukan sudah 11 hari pasca korban dikuburkan. “Saat ekshumasi, kami menemukan tanda luka, namun luka tersebut dipastikan akibat tindakan medis,” katanya.

Masih kata dr. Nurul Aida, luka yang ditemukan pada jasad korban saat melakukan ekshumasi ini, diduga kuat karena tindakan medis.

Yakni, luka di bagian punggung tangan akibat infus, luka di pergelangan tangan, lengan bawah, dan beberapa di lengan atas ada memar. “Ini, semua akibat dari tindakan medis,” paparnya.

Pada ekshumasi itu, ia telah mengambil beberapa sampel tubuh korban yang diduga keluarga ada tanda kekerasan untuk diuji di laboratorium.

Beberapa sampel yang diambil pada jasad korban. Yaitu, wajah, dada dan paru-paru. Pada bagian paru-paru, ia menemukan jika korban mengalami gangguan pernafasan. “Ternyata dari hasil pemeriksaan laboratorium pun tidak ditemukan adanya tanda kekerasan,” bebernya.

Berdasarkan temuan tersebut, akhirnya tim forensik menyimpulkan jika kematian MHD akibat penyakit dan mati lemas. Trauma atau luka yang ditemukan pada tubuh korban dipastikan berhubungan dengan tindakan medis sesuai prosedur.

“Jadi, kematian korban itu karena sakit yang mengarahnya ke penyakit, karena organ dalamnya pun itu mengarah ke penyakit yang menyebabkan dia kekurangan oksigen dan mati lemas,” timpalnya.

“Jadi kesimpulannya, pada saat pemeriksaan kita tidak temukan adanya kecurigaan lain, ada luka atau tidak diluar dari situ, di kepala, di wajah itu tidak ada sama sekali.

Sehingga, kami menyimpulkan kematian korban karena sakit yang mengarahnya ke penyakit. Karena organ dalamnya pun itu mengarah ke penyakit yang menyebabkan dia kekurangan oksigen dan mati lemas,” pungkasnya. (Den)