Hal serupa dikatakan, Nandang Solehudin (45) yang merupakan seorang petani di Desa Wangunreja, mengatakan, bahwa jika musim hujan tiba, para petani selalu kerepotan karena harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar ongkos tenaga tukang cangkul yang membenahi galeng rusak karena diterjang arus banjir.
“Selain galeng sawah petani yang rusak, banyak bibit tanaman padi yang sudah ditanam di sawah mati membusuk. Para petani terpaksa menanam ulang bibit padi yang mati itu karena terendam banjir,” katanya.
Banjir setinggi dada orang dewasa selama berhari-hari berturut-turut menggenangi tanaman padi di lahan peswahan Cigugur yang masih berusia muda sehingga bibit padi itu mati membusuk.
Menghadapi banjir, para petani di wilayah tersebut, hanya bisa pasrah. “Kami tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya pasrah,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin mengatakan, pihaknya memebenarkan terkait kondisi lahan pertanian padi di sawah Cigugur yang kerap dilanda banjir saat musim hujan tiba. Dirinya, mengaku sudah meninjau lokasi pertanian untuk memastikan kebenaranya.
“Memang kondisi sawah di sana pasti akan terendam banjir, jika musim hujan tiba. Karena, tidak ada TPT maupun beronjong batu untuk pembatas sawah dengan sungai,” katanya.





