Refleksi Hari Ibu Ala BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi (1)

Pembina BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi, Any Tri Hendarini.

Tanggal 22 Desember 2019 kemarin bertepatan dengan peringatan Hari Ibu Nasional. Momen ini menjadi perhatian khusus bagi Pembina Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPD PKS Kabupaten Sukabumi, Any Tri Hendarini.
Ia mengajak semua pihak untuk menghormati dan menyayangi ibu.

SRI SUMARNI, Sukabumi

Bacaan Lainnya

Siang itu azan Zuhur pun berkumandang, muslim dan muslimat berbondong-bondong menunaikan ibadah salat zuhur di sebuah masjid yang berada di komplek Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Sukabumi di Jalan Pasar Baru Cisaat (Komplek Stadion Korpri Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (21/12).

Begitupun dengan para anggota khususnya BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi. Setelah menunaikan salat zuhur, satu persatu dari mereka mulai berdatangan ke Sekretariat DPD PKS Kabupaten Sukabumi.

Di sekretariat ini lah mereka terlihat begitu aktif dan kompak menyiapkan agenda untuk memperingati Hari Ibu 2019 keesokan harinya, yang nantinya di sebar di enam cabang dakwah yang ada di Kabupaten Sukabumi. Tahun ini tema yang diambil adalah “Mengokohkan Peran Ibu sebagai Pemersatu Bangsa”.

Radar Sukabumi pun bersilaturahmi dengan para kaum hawa di sini. Salah satunya Pembina BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi, Any Tri Hendarini. Ucapan salam dan senyum Any yang juga lulusan S2 Institut Pertanian Bogor (IPB) dan kini menjadi dosen di Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau itu mengawali pembicaraan seputar ibu.

Perempuan yang memegang prinsip hidup harus bermanfaat bagi orang lain tapi berorientasi akhirat ini, ternyata punya pandangan khusus tentang sosok ibu. Baginya, ibu merupakan sebuah peran yang sangat penting dan strategis, untuk membangun sebuah peradaban. Karenanya, melalui tangannya lah akan terlahir anak-anak yang kuat dan siap untuk berjuang. Seorang ibu juga akan menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam memaknai kehidupan. Itulah mengapa dalam agama disebutkan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

“Kita harus bangga menjadi ibu, karena ternyata fitrahnya wanita itu ada tiga yaitu menjadi ibu, kemudian pendidik atau madrasah dan kemuliaan,” tutur Pembina BPKK DPD PKS Kabupaten Sukabumi, Any Tri Hendarini.

Peran ibu harusnya menjadi sebuah kebanggan, baik bagi dirinya, keluarga maupun bagi negara. Seorang ibu memiliki peran dalam mencanangkan tonggak sejarah kehidupan suatu peradaban, merekalah yang mewarnai dan menentukan profil suatu peradaban. Sehingga peradaban yang berkepribadian mulia, pasti lahir dari muslimah yang mulia pula.

“Untuk mewujudkan peradaban yang berkepribadian mulia, maka para ibu mengemban amanah untuk turut serta berperan melahirkan generasi-generasi cemerlang, baik dalam posisinya di sektor domestik maupun dalam posisinya di sektor publik,” ujarnya.

Jika dilihat secara fitrah, sosok ibu dapat melindungi, mengayomi dan mengokohkan keluarga. “Ibu adalah madrasah istimewa bagi putra dan putrinya yang akan memberi sumbangsih bagi lahirnya peradaban. Allah SWT memuliakan seorang ibu, sebelum dia menjalankan tugasnya dan dengan segala keterbatasan yang dimiliki,” tegasnya.

Politisi perempuan yang juga warga Perumahan Mekarsari Permai, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi itu lalu menjelaskan, sebagai seorang isteri, muslimah wajib berbakti kepada suami, dengan membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah.

“Di sini muslimah/ibu memiliki peran dalam membentuk generasi penerus peradaban. Dibalik diri seorang ulama atau ilmuan besar, atau orang yang sukses pasti ada seorang ibu yang luar biasa atau seorang istri yang luar biasa pula,” imbuhnya.

Menurutnya, seandainya Imam Syafi tidak memiliki ibu yang tangguh, barangkali si anak yatim ini akan tumbuh di jalanan, jadi pengemis atau pengamen dan tidak menjadi seorang pembelajar yang memenuhi setiap rongga tubuhnya dengan ilmu, sekalipun mereka didera oleh kemiskinan.

Nah begitu pula dengan istri Al-Bukhari, Ibnu Sina atau Ibnu Khaldun tidak sigap mengambil peran dan tanggung jawab rumah tangga. Tentu para ulama atau ilmuwan besar itu akan cukup sering direpotan oleh anak-anak mereka, apalagi ketika mereka sering harus mengembara menghadiri majelis-majelis ilmu.

“Allah SWT menciptakan perempuan sebagai seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya, mendidik mereka untuk mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, serta merawat anak-anaknya agar mereka bisa menjadi pondasi bagi sebuah keluarga terhormat,” terangnya.

Dengan kelembutannya, ibu juga memberikan perawatan, pengasuhan pada anak-anaknya dengan kasih sayang.

“Semua terhubung pada peran yang Allah SWT telah siapkan untuknya. Ibu adalah inti dari bangunan sebuah keluarga. Dia adalah pondasi dan pilar bagi keluarga muslim yang terbangun di atas akidah Islam,” paparnya.

Jika ia baik, maka anak-anaknya akan menjadi kuat dan lurus. Namun jika ia rusak maka rumah tangganya akan rapuh bahkan hancur.

Pencetak generasi pahlawan dalam sebuah peradaban seperti halnya sosok Abu Bakar. ra, Umar. ra, Utshman. ra, dan Ali. ra, dan masih banyak contoh lain sepanjang sejarah Islam.

“Tugas seorang ibu tidaklah mudah, dan juga bukan peran yang sederhana, karena dengan tangannya ia akan membentuk generasi, pelaku masa depan. Generasi yang tidak takut oleh apapun dan siapapun kecuali kepada Allah SWT. Generasi cemerlang, dan visioner,” tandasnya.

Sosok ibu di mata Any tidak hanya mengurus anak, merapikan perabotan, atau melakukan pekerjaan yang selayaknya dilakukan seorang ibu rumah tangga. Namun lebih dari itu, mereka harus bisa menjamin keharmonisan di lingkungan sekitar.

Menjadi ibu bukanlah pekerjaan mudah, betapa mulianya posisi mereka sehingga mendapat jaminan surga dari Allah SWT. “Pada dasarnya, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Al Madrasah Al-Ula yaitu ibu adalah sekolah pertama,” ulasnya.

Jika ibu menjadi guru dan memberikan pelajaran yang baik, maka ia telah membersiapkan generasi yang terbaik bagi sebuah bangsa. “Itulah makna kepribadian seorang ibu bagi generasi penerusnya yang seharusnya patut kita hormati, sayangi dan berbakti kepadanya,” ajaknya.

Tanggung jawab ibu begitu besarnya dalam mendidik seorang anak. “Mari kita menghormati dan menyayangi ibu, dan menaati apa-apa saja diperintahkan tentu yang positif. Agama Islam mengharuskan setiap anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama terhadap ibu,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *