SUKABUMI – Mak Atikah (60), warga Kampung Cikeuyep, Desa Cijulang, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, harus menjalani hidup dalam kondisi kemiskinan yang memilukan. Di usia senjanya, ia tinggal seorang diri di rumah tak layak huni tanpa sanak saudara yang menemani.
Bangunan rumahnya yang mayoritas terbuat dari anyaman bambu sudah lapuk dimakan usia. Banyak genteng yang bocor, sementara kayu-kayu penyangga sudah rapuh. Rumah panggung beralas bambu itu kini menjadi saksi kesendirian dan penderitaan Mak Atikah.
“Dulu saya punya tiga anak, tapi mereka tidak pernah pulang, tidak pernah nengokin saya,” kata Mak Atikah pada Jumat (21/03).
Kesepian bukan satu-satunya ujian yang dihadapi. Mak Atikah juga mengalami berbagai penyakit yang membuat hidupnya semakin sulit. Ia menderita sakit kepala berkepanjangan, maag kronis, serta saraf terjepit di kakinya, yang membuatnya sulit berjalan.
“Kalau sakit kaki mah sudah puluhan tahun. Saya pernah berobat sekali waktu punya uang, tapi kata dokter tulangnya sudah hancur,” tuturnya.
Kini, setiap langkahnya adalah perjuangan melawan rasa sakit, keterbatasan ekonomi membuatnya tak mampu mendapatkan pengobatan yang layak.
Harapan Mak Atikah begitu sederhana, yakni bisa berobat dan mengurangi rasa sakitnya. “Harapan saya mah cuma ingin punya uang, pengen berobat lagi,” ujarnya dengan nada penuh harap. (den/d)






