Distan Kabupaten Sukabumi Klaim, Program Bawang Merah Biji TSS Berjalan Baik

  • Whatsapp
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Ajat Sudrajat
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Ajat Sudrajat

SUKABUMI – Bawang Merah biji True Seed Shallots (TSS) atau Bawang Merah Benih Sejati adalah satu dari sekian banyak komoditi hortikulutra unggulan di Kabupaten Sukabumi.

Terkait hal ini, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sukabumi mengklaim bahwa sudah menjalankan satu di antara program dari Kementerian Pertanian (Kementan) tersebut.

Bacaan Lainnya

“Program Kementan untuk bawang merah biji TSS sendiri sudah tumbuh dan berkembang di area dataran tinggi. Kami sudah aplikasikan dan direalisasikan di sejumlah lokasi di Sukabumi.

Yaitu di wilayah Cisaat, Selabintana, Kadudampit, dan Jampang Tengah,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Ajat Sudrajat melalui sambungan telepon, Senin (12/07).

Menurut Ajat, bawang merah biji ini memang menjanjikan sehingga dirinya mendorong agar para petani di Kabupaten Sukabumi terus giat mengembangkan program ini.

Ia menyebut startegi dalam mengamankan pasokan dan kebutuhan bawang merah biji dari Kementan sejalur dengan program Dinas Pertanian.

“Ya, ini sejalur dengan program yang sedang digalakan dan digagas oleh kami. Apalagi Kabupaten Sukabumi memiliki area yang sangat berpotensi baik secara wilayah dan geografi untuk holtikultura ini. Kedapan tentu harapannya bawang merah biji TSS ini bisa berkembang,” tandasnya.

Diketahui Kementrian Pertanian tengah melakukan strategi mengamankan pasokan Bawang Merah Biji dengan mendorong penggunaan benih True Seed Shallots (TSS) untuk provitas yang lebih tinggi.

Maka dari itu, anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBN) di tahun 2021 ini, dialokasikan untuk mendukung produksi bawang merah di 3.900 hektar di seluruh Indonesia, terutama di wilayah defisit.

Menurut Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha dalam bimbingan teknis (bimtek) secara daring untuk para petani, penyuluh, dan penggiat pertanian mengatakan, pengembangan TSS nasional sebenarnya telah diinisiasi sejak 2018.

Kemudian tahun 2021 ini dilakukan pengembangan TSS di lahan seluas 915 hektar di 26 kabupaten.

“Hasil evaluasi penanaman bawang TSS cukup baik dan berhasil, meskipun TSS bukan barang baru dan telah banyak yang berhasil, ternyata masih banyak petani yang ragu untuk mencoba atau memulai budidaya bawang merah dengan TSS,” ungkapnya.

Melihat kondisi ini, menurutnya perlu adanya sosialisasi agar dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan petani untuk budidaya bawang merah TSS.

Sosialisasi TSS ini penting karena bawang merah umbi harganya cukup mahal dan ketersediaannya pun terbatas.

“TSS bisa hadir untuk meningkatkan produksi bawang merah dalam negeri. Dan mudah-mudahan sosialisasi ini dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan petani untuk budidaya bawang merah TSS,” tandasnya. (cr1/d)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *