Bupati Sukabumi Buka Festival Agrokuliner Nata Masagi Part ofGeopark Cullinary, Harapkan Lahir Ikon Ikon Baru

Bupati Sukabumi Marwan Hamami
Bupati Sukabumi Marwan Hamami

CIEMAS – Bupati Sukabumi Marwan Hamami berharap festival agrokuliner nata masagi part of geopark cullinary yang digelar Pantai Palangpang, Desa Ciwaru, Kecamatan Ciemas jadi ajang lahirkan ikon ikon baru dalam pengembangan ke pariwisataan.

Hal itu diungkapkan Marwan seusai membuka festival agrokuliner nata masagi part of geopark cullinary yang dihadiri para pimpinan perangkat daerah, para camat dan juga para kepala desa serta unsur unsur terkait lainnya.

Bacaan Lainnya

Sejauh ini, kata Marwan kabupaten Sukabumi memiliki puluhan bahkan ratusan daerah tujuan wisata yang secara kualitas sudah dan diakui dunia, bahkan dari beberapa survei terdapat tiga lokasi yang sudah dianggap mendunia.
“Ada tiga tempat yang sudah mendunia, Geopark, arung jeram dan selancar laut,” ujar Marwan.

Namun begitu, kata Marwan lagi, dari tiga lokasi tersebut, rata rata hanya dijadikan tempat bagi para wisatawan untuk sekedar penyaluran hobi yang secara intens memang dikejar setiap libur akhir pekan ataupun libur panjang, sehingga kedepan seharusnya ada ikon yang bisa dijadikan oleh oleh bagi para wisatawan tersebut.

“Nah kita upayakan hari ini supaya masyarakat itu merasa memiliki tempat itu, kemudian mereka bisa mengisi ruang yang bisa menjawab kebutuhan pasar yang dimungkinkan, tidak hanya melakukan pengisian kegiatan saja,” jelasnya.

“Artinya dengan potensi yang dimiliki di daerah itu, bagaimana masyarakat punya makanan makanan yang spesifikasinya jarang di tempat lain, hingga menjadi ikon unggulan,” imbuhnya.

Salah satu potensi yang belum terlihat, lanjut Marwan salah satunya yakni di pantai Minajaya yang baru terpikirkannya ada di wilayah tersebut yang di tempat lain tidak ada yakni mata lembu, dengan hal tersebut bisa menjadi pemikiran bersama kedepan.

“Mereka tidak merasa bahwa itu ada yang bisa jadi ikon, itu mata lembu, saya tadi langsung keingetan, mata lembu diolah sehingga jadi ciri khas, jadi kalau ke Minajaya gak beli mata lembu berarti belum ke sana, itu harusnya ikonnya,” paparnya.

Untuk itu Marwan juga berharap masyarakat di kawasan wisata ke depan harus bisa memiliki pemikiran yang saling memiliki, agar ketika melihat potensi ide dan gagasannya dikeluarkan dan dicurahkan menjadi hal yang dapat membantu pengembangan wisata.

“Hari ini ketika kita membikin infrastruktur bagus ternyata tidak bisa menarik orang mau datang ke sini, tapi ketika tidak merasa memiliki, ketika diganggu sendiri bagaimana, itu harus ada pemikiran kesana, perlu kita mengajak semua, agar wisata kita semakin banyak pengunjung dan berkembang salah satunya dengan membuat ikon,” tandasnya. (Ndi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *