Meja Altar Prabu Siliwangi Ditemukan di Gunung Manglayang Sukabumi

PURBAKALA : Tim Penelusuran Arkeologi Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima 2 Pojok Gunung Kekenceng Sukabumi, saat menunjukan meja altar persembahan dan goa purbakala di Gunung Manglayang.

SUKABUMI – Tim Penelusuran Arkeologi Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima 2 mengklaim meja Altar Prabu Siliwangi ditemukan di Gunung Manglayang. Hal tersebut semakin memperkuat dugaan Tim, bahwa peradaban manusia diwilayah sungai Cimandiri yang ada di Kecamatan Cireunghas sudah ada sejak zaman purba.

“Iya, jauh sebelum adanya Kota Sukabumi sekarang yang merunut catatan sejarahnya dimulai ketika Andreas de Wilde membeli tanah di Kawasan Gunung Parang yang sekarang dikenal dengan nama Kota Sukabumi,” kata Ketua Yayasan Cagar Budaya Nasional Pojok Gunung Kekenceng Sukabumi, Tedi Ginanjar kepada Radar Sukabumi.

Bacaan Lainnya

Nampaknya peradaban sungai dilembah sungai Cimandiri, ujar Tedi, dinilai sezaman dengan peradaban manusia di Gunung Padang Cianjur.

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan semakin banyak ditemukannya peninggalan arkeologi zaman prasejarah disana. Terlebih lagi, pada Selasa 9 Maret 2021 lalau, tim penelusuran arkeologi Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima-2 Pojok Gunung Kekenceng Sukabumi kembali menemukan batu-batu besar berupa batu meja persembahan atau meja altar sebanyak dua buah. “Batu altar tersebut panjangnya kurang lebih 2,5 meter dan lebarnya 1 meter,” ujarnya.

Salah satu batu altar tersebut, ujar Tedi, berada dipinggir jalan disisi pesawahan warga, tepatnya di Kampung Naringgul arah ke puncak Gunung Manglayang. Sedangkan batu altar yang satunya lagi berada di kebun bambu warga tepatnya di Kampung Naringgul dengan kondisi pada kontur tanah yang datar.

“Menurut masyarakat setempat, terjatuhnya batu altar yang miring itu, ketika terjadi gempa bumi besar pada tahun 1982 lalu akibat meletusnya Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya.

Gempa besar tersebut menurut penduduk setempat mengakibatkan pula retaknya Gunung Manglayang, seperti terbelah dua. Retakan ini, konon sampai Gunung Padung yang berada dipinggir sungai Cimandiri,” paparnya.

Selain menemukan meja altar, tim penelusuran arkeologi Yayasan Cagar Budaya Nasional juga menemukan sebuah goa jaman purba. Namun sayangnya goa purba tersebut sudah tertutup oleh tanah, sehingga yang terlihat hanya mulut goa saja yang menganga. Jika di ekskavasi, dia menilai bisa saja didalamnya ada peninggalan arkeologi manusia purba.

“Sayangnya hari itu pukul15.00 WIB, hujan keburu turun sampai sore. Sehingga tim penelusuran arkeologi belum sampai ke lokasi Sarkofagus atau peti mayat dari batu yang lokasinya berada di sisi utara Gunung Manglayang.

Padahal Sarkofagus tersebut bisa menjadi temuan arkeologi yang sangat penting untuk menambah bahan kajian bagi Dinas Budpora Kabupaten Sukabumi dan Balai Arkeologi Jawa Barat untuk menguak peradaban manusia di Gunung Padang Cianjur,”timpalnya.

Menurut Arkeolog Utama Balai Arkeologi Jawa Barat, Doktor Lutfi Yondri menjelaskan, bahwa eksodus penduduk Gunung Padang Cianjur pasca runtuhnya bangunan di Gunung Padang akibat gempa dan tsunami besar ribuan tahun silam adalah tersebar ke berbagai tempat hingga ke Selatan Sukabumi.

“Mungkin salah satunya ke Gunung Manglayang di Cireunghas Sukabumi. Karena banyaknya temuan tinggalan arkeologi zaman megalithikum disana,” bebernya.

Salah seorang warga Kecamatan Cireunghas yang lokasinya berada di sekitaran Gunung Manglayang, Lisna (41) mengatakan, di Gunung Manglayang terdapat prasasti beraksara sunda buhun.

Hal tersebut, dapat diketahui saat dirinya pada beberapa tahun lalu sewaktu mencari kayu bakar di Gunung Manglayang. “Iya, saya sempat menemukan prasasti tersebut dibawah rumpun bambu. Tingginya sekitar setengah meter,” jelas Lisna.

Prasasti tersebut kini mungkin telah terkubur tanah, karena waktu Lisna menemukan prasasti tersebut sekitar tahun 2007 silam.

Hal tersebut merupakan kabar yang baik bagi tim penelusuran arkeologi Yayasan Cagar Budaya Nasional Kota Hiroshima-2 Pojok Gunung Kekenceng Sukabumi, sebab jika prasasti tersebut masih ada disana dan dapat ditemukan, maka akan semakin terang benderang sejarah Sukabumi.

Tidak begitu banyaknya manuskrip manuskrip kuno ataupun prasasti di Sukabumi menyebabkan peradaban masa lampau mengenai Sukabumi hingga tidak begitu diketahui dengan pasti

. Sementara ini prasasti di Sukabumi hanya ada di Sanghyang Tapak Cibadak. Tinggalan arkeologi di Sukabumi kebanyakan hanya menhir, punden berundak, arca dan yang lainnya.

“Kami berharap tinggalan arkeologi yang telah ditemukan dapat menjadi aset wisata sejarah bagi pemerintah daerah, pemerintah desa dan warga sekitarnya. sehingga bisa bermanfaat bagi semua baik dalam peningkatan sektor ekonomi maupun sejarah, budaya dan kearifan lokal,” pungkasnya. (den/d)


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *