Psikolog Sukabumi Sebut Kebiri Kimia tak Langgar HAM

  • Whatsapp
Psikolog Sukabumi, Joko Kristianto

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Psikolog di Sukabumi, Joko Kristianto menanggapi kebijakan pemerintah terkait huuman kebiri pada pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Seperti diketahui bahwa Presiden RI, Joko Widodo telah mengesahkan PP nomor 70 tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak.

Pada PP nomor 70 dijelaskan kebiri kimia adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain untuk menekan hasrat seksual berlebih yang disertai rehabilitasi. Selanjutnya pada pasal 5 diatur, kebiri kimia dikenakan untuk jangka waktu paling lama 2 tahun. Pada Pasal 9 huruf c PP nomor 70 tahun 2020 tegas mengatur pelaksanaan kebiri kimia dilakukan segera setelah terpidana selesai menjalani pidana pokok.

Bacaan Lainnya

Kepada Radar Sukabumi, Psikolog yang kerap mendampingi korban anak pelecehan seksual di Sukabumi, Joko Kristianto mengaku setuju dengan aturan terkait sanksi kebiri kimia kepada pelaku tindak pidana kejahatan seksual kepada anak tersebut.

“Saya segera pribadi sepakat dengan PP tersebut, karena memang sejauh ini efek jera terhadap para pelaku tindak pidana seksual terhadap anak itu masih belum terlihat,” ungkapnya kepada Radar Sukabumi saat dihubungi, Kamis (7/1/2021).

Selain itu, Joko menilai, sanksi kebiri kimia kepada pelaku pelecehan seksual kepada anak tersebut tidak melanggar hak dari pelaku tersebut. Karena memang, para pelaku itu sudah merenggut hak orang lain.

“Saya rasa seperti saat ini yang sedang ramai bahwa hukuman itu melanggar HAM, saya kurang setuju, karena pelaku itu merenggut hak orang lain, kecuali itu diberlakukan bagi semua orang tindak kejahatan baru iya,” ungkapnya.

Selain itu, Joko melihat, dengan berlakunya aturan tersebut setidaknya menajdi pertimbangan bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Terlebih di Kabupaten Sukabumi, korban pelecehan seksual terhadap anak cukup tinggi.

“Setahu saya, kebiri kimia itu tidak berlaku permanen. Artinya, tidak seumur hidup ada batasan. Tapi pada intinya saya sepakat, sebagai petugas yang melakukan pendampingan saya tahu betul bagaimana para korban,” bebernya.

Joko berharap, dengan PP nomor 70 tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual Terhadap Anak itu, angka kejahatan di Kabupaten Sukabumi berkurang.

“Tentunya, harapan saya sebagai petugas dengan aturan yang baru itu, angka kejahatan seksual terhadap anak di Kabupaten Sukabumi dan di Kota Sukabumi bisa berkurang,” pungkasnya. (upi/rs)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *