Hanjeli Sukabumi Bakti Untuk Negeri, Budidayakan Pangan Pengganti Padi

Sejumlah wisatawan dari salah satu sekolah pada saat belajar untuk mengenal tanaman Hanjeli
BELAJAR : Sejumlah wisatawan dari salah satu sekolah pada saat belajar untuk mengenal tanaman Hanjeli yang dinyakini bisa menjadikan tanaman pengganti Padi. (foto : ist/dok Desa Hanjeli)

SUKABUMI — Asep Hidayat Mustofa (35) baru saja pulang dari ladang Hanjeli yang tidak jauh dari rumahnya. Bajunya sedikit kotor. Hanya menggunakan sendal biasa. cuaca di Kampung Waluran 2, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi saat itu cerah namun berawan. Namun tidak mengurangi keindahan desa yang lokasinya tak jauh dari Pantai Palabuhanratu.

Saban hari, Asep bersama warganya mengawasi semua kegiatan di Desa Wisata Hanjeli. Terutama pada saat ada tamu yang berkunjung ke lokasi desa wisata yang berbasis pangan itu. Sosok kang Asep (Panggilan Akrab red) adalah mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sukses membawa warganya berdikari dan mandiri, terutama bagi para warga mantan PMI.

Bacaan Lainnya

Asep melakukan Budidaya tanaman Hanjeli (Coix lacryma-jobi) atau yang dikenal Jali-jali memang sudah berlangsung lama. Sudah berlangsung 12 tahun lamanya. Jatuh bangun merintis agar tanaman ini digemari petani dan masyarakat. Tepatya sejak tahun 2010 seusai dirinya pulang dari Arab Saudi.

Ketertarikan Kang Asep untuk mengembangkan tanaman ini ketika bibinya membawakan bubur berbahan hanjeli yang ternyata terasa enak. Sebelum berniat budidaya Hanjeli sebagai pangan alternatif pengganti Padi, Asep melakukan riset dengan mendatangi teman-temannya dibeberapa kecamatan Kabupaten Sukabumi, sambil menjalankan pekerjaanya sebagai petugas Program Keluarga Harapan (PKH). Awalnya memang dirinya tidak begitu tahu tentang tanaman Hanjeli ini, setelah melakukan riset dan membuat Google ternyata Hanjeli ini luar biasa.

“Hasil riset waktu itu, saya temukan bahwa jumlah kandungan Protein pada Hanjeli dua kali lipat dari beras. Jadi kalau nasi itu, 8,8 persen kalau Hanjeli bisa mencapai 14,5 persen, “jelasnya.

Setelah itu, dirinya kemudian mulai membeli Hanjeli dari para petani kemudian diolah menjadi makanan dan menjualnya secara online lewat media sosial. Pada tahun 2015, kemudian Asep coba melebarkan sayapnya dengan menjual olahan Hanjeli ini di beberapa media sosial, setelah banyak peminat dirinya mengajak warga untuk menanam hanjeli.

Asep menyakinkan dirinya untuk membudidayakan Hanjeli sebagai tanaman pangan pengganti padi. Pandangan dirinya, Hanjeli bisa menggantikan padi, bahkan khasiatnya melebihi nasi. Berangkat dari sana, perlahan demi perlahan dirinya mulai budaya dan mengajak warga terdekat untuk menanam hanjeli.

“Awalnya warga memang tidak begitu respon bahkan mengolok-olok, namun setelah mengetahui menanam Hanjeli bisa bernilai ekonomis. Perlahan warga mengikuti menanam Hajeli. Waktu itu, penanamanya hanya dengan tumpang sari di ladang padi ataupun di kebun jagung, “cetus Asep saat bercerita awal kisahnya.

Dua orang anak saat berlajar membersihkan Hanjeli
BERMAIN SAMBIL BELAJAR : Dua orang anak saat berlajar membersihkan Hanjeli. (foto : ist)

Niat, Asep mempopulerkan Hanjeli ini merubah paradigma masyarakat yang selama ini anggap sosok tanaman yang sebelumnya hanya dijadikan pagar tanaman tidak bernilai, kini bisa bernilai ekonomis. Melihat keberhasilan Asep, sebagian warga lainnya mulai tertarik untuk menanam Hanjeli, terlebih Asep membeli Hanjeli ini lebih tinggi dari harga biasanya.

Dirinya membeli Hanjeli seharga Rp5 ribu per kg sampai Rp5,5 Ribu, jauh dengan harga gabah pada waktu itu hanya dibeli Rp3,5 ribu. Selain itu juga, tanaman Hanjeli yang mudah dibudidayakan membuat masyarakat tidak kerepotan menanam. Hanya saja masa tanam Hanjeli ini memerlukan waktu sekitar 6 bulan lamanya. Namun, Hanjeli ini tahan hama dan bisa tumbuh tanpa memerlukan air banyak.

“Hajeli ini bisa dibuat beragam, mulai dari pangan alternatif pengganti beras, bisa juga dibuat Nasi Liwet Hanjeli, Bubur Hanjeli, Dodol Hanjeli, Rengginang Hanjeri, dan Kicimpring Hanjeli dan lainnya seperti dibuat aksesoris kalung dan gelang, “tambahnya.

Selain menanam hanjeli, Asep juga mengajak warganya memamfaatkan pekarangan kosong untuk ditanami sayuran. Kebehasilan Asep menjadikan desa Waluran sebagai desa wisata pangan pertama di Indonesia yang berbasis komunitas. Apalagi, Desa Waluran Mandiri ini masuk pada kawasan Geopark Ciletuh Pelabuhanratu yang ditetapkan Unesco pada tahun 2018 silam. Pada akhirnya bersama  masyarakat setempat mendirikan Desa Wisata Hanjeli dengan konsep wisata edukasi yang memiliki potensi pariwisata dan meningkatkan perekonomian warga di tempat tinggal sekitarnya.

Dalam proses budaya tanaman ini dirinya melibatkan warga setempat khususnya warga mantan PMI yang tersebar dibeberapa kampung, yang menamakan kelompok taninya Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar mandiri. Pemimpin KWT adalah seorang ibu bernama Koya. Hal itu, dilakukan semata untuk pemberdayaan masyarakat dalam upaya menumbuhkan ekonomi yang berkelanjutan.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar mandiri
BELAJAR : Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar mandiri Saat Mengajar Wisatawan Membuat Dodol hanjeli. (foto :ist)

Ada sekitar 100 lebih wanita yang terlibat dalam proses budidaya ini, adapun lahan yang digunakan untuk menanam hajeli ini sekitar 5 hektar sampai 6 hektar lebih yang digunakan.

“Ya dengan budidaya Hanjeli dengan memafaatkan lahan yang kosong, menjadikan Desa Waluran sebagai desa wisata yang bisa membuat masyarakat sejahtera dan ekonomi meningkat, “terangnya.

Untuk pasarnya sendiri, hasil olahan Hanjeli sudah tersebar ke seluruh peloksok Negeri bahkan luar negeri. Bahkan menurutnya, ada beberapa pelanggan berasal dari warga China, pasalnya orang China menyebutkan tanaman Hanjeli merupakan obat untuk kesehatan diantaranya untuk penyakit Beri-beri, kanker.

Sementara dalam mengembang tanaman Hanjeli dirinya juga bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia, diantaranya dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Muhamadiyah Sukabumi (UMMI) dan perguruan tinggi lainnya.

“Kami juga sudah mengembangkan makanan lain, seperti bolu Hanjeli, bronis Hanjeli dan olahan lainnya. Nah, kelebihan kami adalah para pengunjung atau wisatan yang datang ke Desa Wisata dengan langsung belajar membuat makanan berbahan Hanjeli di lokasi. Jadi mereka jadi tahu prosesnya Langsung sehingga mereka bisa membuatnya dirumah sepulang berwisata, “tegasnya.

Ekonomi Desa Bergeliat, Pekerjaan Lebih Terhomat

Sebelum digagas menjadi Desa Wisata Hanjeli, Kampung Waluran diketahui sebelumnya warga mengantungkan hidupnya dengan menumbuk batu bahan emas. Hampir setiap hari ibu-ibu yang tidak berani merantau ke luar negeri menumbuk batu dari hasil tambang. Adanya Desa Wisata Hanjeli ini perlahan warga mulai terhormat dengan menanam hanjeli.

“Ya dulu sebelum mereka aktif menanam hanjeli, ibu-ibu ini adalah penumbuk batu dan sebagian adalah buruh migran yang kebanyakan bekerja di luar Negeri, “jelas Asep.

Melihat fenomena tersebut, Kang Asep menilai pekerjaan ibu-ibu menjadi penumbuk batu merupakan pekerjaan yang kurang ideal. Untuk itu, dirinya mengajak secara pelahan warga setempat untuk beralih pekerjaan menjadi petani dengan menanam Hanjeli.

Sejumlah warga saat menjelaskan soal potensi Hanjeli sebagai Olahan pangan.
BELAJAR : Sejumlah warga saat menjelaskan soal potensi Hanjeli sebagai Olahan pangan. (foto : ist)

Kang Asep menilai, jika menanam Hanjeli dan mengolahnya menjadi makanan yang bernilai ekonomi tentunya pekerjaan mereka bisa terhormat. Dan benar saja, sejak mereka mencoba menanam dan mengolah bersama-sama derajat mereka perlahan berhasil naik bersamaan dengan ekonomi yang meningkat dari hasil mengolah tanaman Hanjeli.

“Saat ini mereka rata-rata penghasilan dari membudidayakan Hanjeli dalam seminggu bisa mencapai Rp1 Jutaan, apalagi ketika banyak wisatawan yang datang, “terangnya.

Kedepan, tentunya Kang Asep menilai perjuangan masih panjang. Pasalnya dari produk yang ada saat ini, dirinya berencana mengembangkan Hanjeli ini dengan 35 jenis makanan olahan yang saat ini masih berjalan diteliti bersama perguruan tinggi.

“Kami terus berkembang dengan akan menciptakan produk-produk olahan Hanjeli menjadi berbagai jenis, mulai jadi Tempe Hanjeli hingga menjadikan tanaman Hanjeli ini untuk produk kencatikan. Mimpi saya adalah tidak hanya membuat ekonomi pribadi yang meningkat tetapi, ekonomi masyarakat desa lain ikut bangkit, “tegasnya.

Infrastruktur Pertama Dibantu Bank Indonesia 

Perjuangan tidak menghianati hasil adalah kata yang pertama keluar saat ditanya mendapatkan bantuan dari Bank Indonesia Jawa barat (Jabar), menurutnya setelah 10 tahun lamanya dirinya berjuang mengembangkan Desa Hanjeli Wisata, akhirnya mendapatkan bantuan Infrastruktur Pertama dari Bank Indonesia Jabar. Dirinya merasakan betul bagaimana pahit dan getirnya setiap perjalanan dalam melakukan pemberdayaan. Proses panjang memberikan pelajaran penting dalam hal suka maupun duka.

“Kami jujur pertama kali mendapatkan bantuan untuk Infrastruktur dari BI Jabar, dengan dibuatkan Bale Aula Hanjeli dan WC berserta Sumur Bornya. Ini sangat membantu saat ada kunjungan wisata dari berbagai daerah, saya banyak ucapkan terima kasih. Terima kasih Bank Indonesia (BI) Jabar atas segala suportnya dan bimbinganya “terangnya.

Dirinya berharap, kedepan Bank Indonesia Jabar terus bermintra dalam mengembangkan potensi wisata didaerahnya dengan tetap bersilaturahmi dan membimbing orang-orang di Desa Wisata Hanjeli. Menurutnya, tanpa adanya kolaborasi dari Bank Indonesia, tentu Dewa Wisata kami tidak akan mampu bisa meraih cita-cita yang selama ini kami idamkan.

“Dengan adanya bale Hanjeli ini, tentunya membantu kami dalam kegiatan untuk sarana edukasi kepada pengunjung dan wisatawan, saya sangat senang berwisata dan berminyra dengan Bank Indonesia Jabar, “cetusnya.

Bale Hanjeli bantuan Bank Indonesia
BALE HANJELI : Bale Hanjeli bantuan Bank Indonesia saat Digunakan Wisatawan dari Pemprov Sumatera Barat untuk sharing pengalaman. (Foto : ist)

Kedepan tentunya Desa Hanjeli terus berbenah, hasil prestasi yang saat ini dicapai bukanlah akhir dari perjuangan. Bahkan dirinya mengatakan, dirinya sedang melakukan beberapa penelitian dengan perguruan tinggi untuk menciptakan bahan makanan lain seperti makanan Ransum untuk TNI/Polri yang berbahan baku Hanjeli, sebelumnya sabun sudah dilakukan dan sukses.

“Kami kan bercita-cita ada 36 jenis komoditas dari bahan baku Hanjeli, nah sampai saat ini kami masih terus melakukan penelitian. Harapannya tentu Desa Wisata Hanjeli ini, bisa meningkatan kualitas hidup masyarakat dan UMKM yang ada di wilayah Desa Hanjeli, “tukasnya.

Tentunya kedepan, pihaknya bersama Bank Indonesia Jabar akan segera merumuskan agar Desa Wisata Hanjeli dan UMKMnya bisa terdaftar di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Tentunya, tanpa bantuan Bank Indonesia Jabar dalam membingbing akan kesulitan mengurus itu.

“Saya bangga bisa dibantu Bank Indonesia Jabar dalam memajukan Desa Wisata Hanjeli ini, terima kasih kami ucapkan, “tukasnya.

Libatkan Mantan Buruh Migran Sebagai Tour guide

Cum Ahmawati Eks Buruh Migran yang sudah lama bekerja sebagai Tour guide di Desa Wisata Hanjeli merasakan betul sentuhan dingin Kang Asep. Wanita yang menguasai tiga Bahasa ini mengaku senang bisa membantu mengembangkan desa Wisata Hanjeli ini. Betapa tidak, setelah pulang bekerja jadi buruh migran jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi, dirinya jadi tidak lagi ada pikiran untuk kembali mengadu nasib ke luar Negeri, setelah bergabung mengelola desa wisata Hanjeli.

“Sehari-hari saya disini bekerja sebegai Tour guide untuk tamu yang datang. Kebetulan saya bisa tiga bahasa asing seperti Inggris dan Arab. Jadi ketika ada kunjungan dari orang asing saya bisa menjelaskan secara detail kepada mereka tentang Hanjeli, “cetusnya.

Dirinya memantapkan diri untuk tetap ikut mengelola desa mandiri, dengang harapan tidak lagi menjadi buruh migran. Pasalnya, ketika menjadi buruh migran secara otomatis harus meninggalkan anak-anak dan suami. Sekarang, setelah fokus di Desa Wisata dirinya bisa fokus membesarkan anak-anak tanpa harus meningalkannya.

“Tentunya dengan bantuan kang Asep. Saya bersama kawan mantan Buruh Migran lainnya yang ada di Desa Waluran mandiri ini bisa mandiri secara ekonomi dan sejahtera, “tandasnya.

Sementara untuk wisatawan yang datang dirinya mengaku hampir setiap minggunya ada. Tidak hanya dari dalam negeri seperti dari daerah Papua dan daerah Indonesia lain, wisatawan luar negeri juga banyak yang datang. Bahkan para peneliti dari luar diterima dengan baik. Selain belajar, biasanya para wisatan ini menayakan soal kandungan gizi hanjeli.

“Untuk wisatawan dari luar negeri, ada dari Jepang, Australia dan yang terbaru dari Negara Belanda. Mereka banyak bertanya dan belajar tentang jenis pangan ini, dan kebanyakan tertarik untuk mengembangkan dan mengetahui lebih soal Hanjeli tersebut, “bebernya.

WISATAWAN ASING
WISATAWAN ASING : Dua Wisatawan Asing Asal Belanda pada saat belajar Menumbuk Hanjeli. (foto : ist)

Dirinya juga ditugasi untuk bisa memberikan edukasi kepada pengunjung atau wisatawan yang datang dengan menunjukkan bahwa produk dari tanaman Hanjeli dapat dimakan dan bernilai ekonomi bagi masyarakat.

Lebih lanjut dirinya berharap, Desa wisata Hanjeli Waluran ini bisa menjangkau mancanegara dan menjangkau turis luar negeri untuk datang untuk belajar tentang kearifan pangan lokal hanjeli.

Diketahui, selain menjadi Tour guide, banyak juga mantan buruh Migran seperti Cum Ahmawati ini ikut andil dalam desa wisata Hanjeli tersebut, diantaranya mengurus soal rumah baca Sauyunan, pembuatan aksesoris dan bidang lainnya sesuai dengan tugasnya masing-masing.

Adanya beragam aktivitas yang dikembangkan di Desa Wisata Hanjeli membuat lebih banyak warga yang bisa berdaya. Bahkan untuk menjelaskan dan sumber informasi, didirikan Rumah Hanjeli Indonesia sebagai pusat informasi terkait tanaman Hanjeli sebagai  potensi produk pangan lokal yang bernilai ekonomi. Fasilitas yang telah dibangun di desa ini cukup lengkap, antara lain Rumah Baca Suyunan, Rumah Hanjeli Indonesia, Saung Lisung Hanjeli, dan homestay untuk wisatawan yang ingin menginap.

Desa Hanjeli Juara III kategori Desa Wisata Rintisan dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia
Desa Hanjeli Juara III kategori Desa Wisata Rintisan dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil, terlihat dari begitu banyak kedatangan penunjung, seperti wisatawan lokal mapun mancanegara, komunitas, siswa sekolah, mahasiswa dari berbagai universitas, aparat pemerintah, dan instansi lainnya. Ada begitu banyak pengunjung yang datang ke desa Waluran Mansiri setiap bulan.

Bahkan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pun sudah melihat langsung kondisi Desa Wisata Hanjeli. Kedatangan tersebut bertujuan untuk melakukan peninjauan dan penilaian 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2022. Pada akhirnya, terpilih menjadi juara III kategori Desa Wisata Rintisan dalam acara Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. (hnd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *