“Memang pernah ada konfensasi sebesar Rp25 juta untuk semua warga terdampak. Tetapi, kalau gorong-gorong itu dibiarkan maka setiap terun hujan akan terus menimbulkan keresahan. Karena setiap turun hujan pasti banjir.
Ya, meskipun banjir baru-baru ini tidak sampai merendam rumah warga hanya menggenangi halaman rumah saja, tapi jika hujannya berlangsung alama tidak menutup kemungkinan bakal kembali menggenangi rumah kami,” ujarnya.
Sejauh ini, sambung Hoer, warga sudah melakukan komunikasi dengan pemerintah desa setempat dan pihak perusahaan. Namun, tidak membuahkan hasil yang signifikan.
“Tuntutan kami hanya satu, perusahaan harus membongkar gorong-gorong tersebut agar tidak menimbulkan banjir kembali.
Pihak perusaah mempersilahkan kepada warga untuk membongkar gorong-gorong tersebut. Namun, itukan kewajiban perusahaan melakukan pembongkaran, bukan malah mempersilahkan ke warga. Kami berharap pemerintah harus mengambil sikap terkait kejadian ini,” cetusnya.
Menanggapi hal tersebut, Camat Cibadak, Lesto Rosadi mengatakan, sejauh ini pemerintah sudah melakukan koordinasi dengan pihak perusahaan. Bahkan, Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sarjono pun sudah terjun menyikapi persoalan tersebut.
“Kami dari jauh hari sudah melakukan koordinasi dengan semua sektor, termasuk perusahaan dan Dinas PU. Bahkan, Pak Adjo juga pernah melakukan pengecekan.
Untuk perbongkaran gorong-gorong tersebut, perusahaan sudah mempersilahkan kepada warga dan perusahaan hanya siap menyediakan alat berat. Tapi untuk biaya solar itu harus warga yang menanggung.
Nah, yang jadi pertanyaan saya sebelum membangun gorong-gorong tersebut apakah perusahaan suah membuat izin dari desa atau belum. Soal pembongkarankan itu kewajiban pihak perusahaan. Untuk lebih jelasnya, silahkan bisa menghubungi pak kades,” singkatnya.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan Kades Batununggal, Dudung Iskandar belum dapat menerima telpon seluler dari Radar Sukabumi. (bam/d)






