Duh, Nomor Antrian di Rumah Sakit Palabuhanratu Sukabumi Diperjualbelikan

RSUD Palabuhanratu Sukabumi.
RSUD Palabuhanratu Sukabumi.

SUKABUMI — Ramai di Media sosial Facebook seorang warganet menyampaikan keluhan soal nomor antrian untuk berobat warga di Rumah sakit Palabuhanratu Sukabumi di jual belikan oknum tidak bertanggung jawab.

Keluhan warga tersebut di unggah digroup facebook disampaikan Fuadz Speed dengan menuliskan, “punteun min hyong di loloskeun.. Eta nu sok ngajualan no antrian di RS mikir atuh kop**k cig atuh ulah hyang untungna.jauh jauh ka RS bri jeung subuh mni eweuh hji hiji acan eta no antrian, karunya atuh nu lainna ari ktu cara nmah koplok... (Maaf ingin diloloskan, itu yang suka menjual nomor antrian di RS (Palabuhanratu) mikir, jangan hanya untung aja. Jauh-jauh ke RS pada subuh tidak ada satu-satu nomor Antrian, kasian yang lain kalau begitu caranya) tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Kasi Sistem Informasi Manajen (SIM) RSUD Palabuhanratu, Ahmad Nursopyan mengatakan terkait dengan info yang beredar adanya oknum yang memperjual belikan nomor antrian, pihaknya langsung melakukan penelusuran dimana, oknum yang besangkutan bukan menjual belikan nomor antrian, namun memang sebelumnya telah menerima permohonan bantuan dari pasien untuk pengambilan nomor antrian.

“Kami memberlakukan kebijakan untuk pengambilan nomor antrian itu harus memperlihatkan surat kontrol ataupun surat rujukan, nah yang bersangkutan ketika mengambil nomor antrian itu sudah memperlihatkan surat kontrol dan surat rujukan, jadi oleh petugas diberikan sesuai dengan haknya,” ungkapnya.

“Cuma mungkin di sini dievaluasi juga kedepannya, apakah yang bersangkutan itu perlu dibatasi menerima permohonan pengambilan surat kontrolnya dengan tidak boleh lebih dari dua nomor antrian, jadi kalau lebih dari dua kita tidak akomodir itu salah satu evaluasinya,” sambungnya.

Dijelaskan Ahmad Nursopyan, akhir akhir ini warga yang berobat ke rumah sakit Palabuhanratu cukup banyak, hal itu menurutnya kunjungan pasien mulai normal kembali pasca Covid dengan dibuktikan jumlah kunjungan setiap hari membludak hingga terjadi antrian cukup panjang dan menimbulkan permasalahan di pengambilan nomor antrian.

“Yang jadi permasalahan, saling keterkaitan animo masyarakat yang berobat dengan kemampuan rumah sakit untuk melayani pasien, kita melakukan pembatasan pelayanan,” jelasnya.

“Pembatasan pelayanan ini mengacu pada kebijakan BPJS dalam tidak meloloskan semua pasien, jadi ada pembatasan kita menerapkan sekitar 40 sampai 50 pasien per poli,” imbuhnya.

Namun, lanjut Ahmad kebijakan tersebut juga terdapat konsekuensi, dimana ketika ada pasien yang tidak terakomodir kemudian dengan hal itu menjadi ramai di kalangan pasien atau di masyarakat.

Pos terkait