Selain itu, DKP Kabupaten Sukabumi juga mengimbau kepada seluruh petani Kabupaten Sukabumi agara tidak menjual dalam bentuk gabah. “Proses terlebih dulu menjadi beras. Setelah itu, baru bisa dijual,” akunya.
Menjelang Tahun Baru dan Natal tahun ini, Surya mengklaim persediaan beras dipastikan aman. Hal tersebut, karena kebutuhan beras masih bisa dicukupi dari hasil produksi pertanian padi di Kabupaten Sukabumi.
Data yang tercatat, saat ini produktifitas pertanian padi baru mencapai rata-rata 6,8 ton perhektare dengan luas lahan baku 6,8 hektare. “Berdasarkan data yang ada, Kabupaten Sukabumi masih bisa surplus 250.000 ton perhektare. Makanya, stok beras di Kabupaten Sukabumi aman,” sebutnya.
Sementara itu, seorang petani asal Kampung Talaga, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Cecep (38) mengatakan, tanaman padi saat ini masih menjadi sumber pendapatan utama warga Desa Sirnaresmi. Namun ia mengaku pendapatannya semakin menurun akibat tingginya biaya produksi.
Seperti melonjaknya harga pupuk di pasaran. “Kami juga mempersoalkan harga gabah yang rendah setiap musim panen raya. Pendapatan kami semakin menurun,” jelas Cecep.
Saat ini, petani menjual gabahnya per 1 kwintal hanya sebesar Rp420 ribu. Sementara, dihari-hari biasanya dalam 1 kwintal bisa sampai Rp480 ribu dan Rp500 ribu. “Kami masih bergantung dengan tanam padi, karena cuma itu yang bisa digarap. Semoga pemeirntah bisa mempertahankan harga jual gabah,” pungkasnya. (Den/d)





